Ikuti Tren Koreksi Global, Bursa Eropa Dibuka Melemah

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
12 April 2021 15:38
FILE PHOTO: A trader works at Frankfurt's stock exchange in Frankfurt, Germany, April 6, 2018. REUTERS/Ralph Orlowski/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Eropa tertekan pada sesi awal perdagangan Senin (12/4/2021), menyusul masih minimnya angin sentimen pengangkat bursa.

Indeks Stoxx 600 yang berisi 600 saham unggulan Eropa melemah 0,3% pada sesi pembukaan, dengan indeks saham sektor perbankan melemah 1,3% menjadi pemimpin koreksi, sementara indeks saham sektor otomotif menguat 0,5%.

Selang 20 menit kemudian, koreksi indeks Stoxx 600 menjadi 1,9 poin (-0,44%), menjadi 435,31. DAX Jerman minus 21,3 poin (-0,14%) ke 15.212,9 dan FTSE Inggris turun 16,45 poin (-0,27%) ke 6.152,96. Di sisi lain, indeks CAC Prancis drop 60,5 poin (-0,88%) ke 6,855,21.


Bursa Eropa mengikuti tren di Asia Pasifik, di mana bursa India menjadi pemimpin koreksi setelah melaporkan kenaikan kasus Covid-19 di berbagai negara, sementara indeks MSCI Asia pasifik (non-Jepang) melemah lebih dari 1%.

Kontrak berjangka (futures) indeks saham Amerika Serikat (AS) juga tertekan, setelah pekan lalu indeks S&P 500 dan Dow Jones menyentuh rekor tertinggi baru merespons komentar bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang mempertahankan kebijakan suku bunga longgar.

Terbaru pada Minggu kemarin, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa ekonomi AS berada di "poin pembalikan" dengan pertumbuhan dan kenaikan pembukaan lapangan kerja diprediksi melesat.

Namun demikian, masih ada risiko seputar pembukaan ekonomi yang terlalu cepat yang bisa memicu kembali kenaikan kasus Covid-19. Powell mengatakan "sangat tidak mungkin" bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan "kapanpun tahun ini."

Di Eropa, pemerintah Inggris melonggarkan kembali pembatasan masyarakat (lockdown) pada Senin, dengan mengizinkan pembukaan kembali restoran dan tempat nongkrong berkonsep ruang terbuka, serta salon, sasana, toko dan pertunjukan di ruang terbuka.

Dari kabar korporasi, Credit Suisse dikabarkan tengah disidik oleh otoritas setempat terkait kasus Greensill Capital, jauh sebelum bank asal Swiss tersebut terpaksa memikul kerugian sebesar US$ 10 miliar terkait dengan gagal-bayarnya lembaga keuangan tersebut.

Pelaku pasar bakal memantau penjualan ritel zona Euro per Februari.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading