Joss! IHSG Tembus 6.100, Deretan Saham Big Cap Ini Ngamuk...

Market - Putra, CNBC Indonesia
09 April 2021 09:27
foto : CNBC Indonesia/Muhammad Sabki Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melesat pada perdagangan pagi ini. Dibuka hijau 0,49% ke level 6.101,72. Selang 5 menit perdagangan sesi pertama IHSG masih hijau 0,48% ke level 6.100,31. IHSG sukses kembali ke atas level 6.100 pada perdagangan akhir pekan Jumat (9/4/21).

IHSG berhasil naik didorong oleh saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo yang melesat kencang pada perdagangan hari ini.

Simak tabel berikut.


Emiten

%Change

BBCA

1,06%

BBRI

0,46%

TLKM

0%

BMRI

2,39%

UNVR

0,38%

Tercatat dari 5 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa seluruhnya berhasil menghijau dan hanya 1 yang stagnan.

Tercatat emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar (big cap) di bursa yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sukses naik 1,06% ke level harga Rp 31.000/unit. Di posisi kedua perbankan saingan BBCA yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga berhasil menghijau tipis 0,46% ke level harga Rp 4.370/unit.

Apresiasi terbesar di antara saham-saham big cap diduduki oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang sahamnya terbang 2,39% ke level harga Rp 6.425/unit.

Saham dengan kapitalisasi pasar kelima terbesar di bursa yang memiliki sektor utama barang-barang konsumsi yakni PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga tercatat hijau tipis 0,38% ke level harga Rp 6.625/unit.

Tercatat hanya emiten telekomunikasi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang tercatat stagnan di level harga Rp 3.390/unit.

Kenaikan saham-saham di bursa lokal terjadi setelah yield surat utang negara AS tenor 10 tahun semakin turun. Kini imbal hasil nominalnya berada di 1,63%. Jika dikurangi dengan inflasi 1,6% maka imbal hasil riilnya masih sangat rendah.

Indeks dolar yang mengukur posisi greenback terhadap mata uang lain juga ikut drop. Indeks dolar ambles 0,42% semalam menyusul pernyataan The Fed yang masih kekeuh dengan kebijakan longgarnya yang tercermin dalam risalah rapatnya.

Duet yield dan dolar AS yang bergerak naik sepanjang tahun 2021 membuat investor banyak menarik dananya dari bursa saham Asia.

Berdasarkan data Refinitiv, negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Filipina, Thailand, Filipina, Vietnam, Indonesia dan India secara kumulatif mencatatkan net outflow sebesar US$ 3,18 miliar di saat yield naik.

Taiwan dan Korea Selatan, yang menampung banyak saham teknologi dengan harga tinggi menghadapi aliran modal keluar terbesar di Asia. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih masing-masing US$ 3,2 miliar dan US$ 1,3 miliar di bursa saham kedua negara tersebut.

Jika duet maut keduanya sudah kehabisan tenaga dan saatnya untuk turun panggung maka ada peluang besar bahwa para pemilik modal tersebut akan menamkan dananya ke pasar keuangan Asia, tak terkecuali Indonesia.

Masih dari AS, Joe Biden selaku Presiden ke-46 pada Rabu di Washington menyatakan siap bernegosiasi terkait dengan rencana kenaikan pajak penghasilan (Pph) badan menjadi 28%, guna mendanai program infrastrukturnya senilai US$ 2 triliun.

Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa proposal tersebut akan berujung pada pendapatan ekstra sebesar US$ 2,5 triliun dalam 15 tahun untuk membiayai program yang berjalan selama 8 tahun tersebut.

Sejak awal, Partai Republik menyatakan keberatannya atas rencana penaikan pajak korporasi tersebut, terutama di tengah situasi pandemi.

Rilis berbagai data ekonomi juga akan menjadi sentimen penggerak pasar hari ini. Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis data indeks keyakinan konsumen (IKK) bulan Maret.

Sejak pandemi merebak setahun terakhir angka IKK selalu di bawah 100 yang mengindikasikan konsumen sedang pesimis dalam memandang perekonomian. IKK mulai anjlok April tahun lalu dan mencapai level tertinggi di akhir tahun tepatnya pada Desember 2020 ketika IKK berada di 96,5.

Setelah itu IKK cenderung turun. Di bulan Januari 2021 IKK tercatat turun menjadi 84,9. Di bulan selanjutnya yaitu Februari IKK naik menjadi 85,8. Masih di bawah 100 memang. IKK bulan Maret diramalkan bakal lebih baik. Trading Economics memperkirakan IKK bakal tembus 87.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading