Analisis

Jelang Ramadan, 8 Saham Emiten Konsumer Ini kok Nyungsep?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
09 April 2021 08:54
Pedagang kurma menata barang dagangannya di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Jumat (3/5/2019). Menjelang bulan Ramadan, permintaan buah kurma meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa. Harga kurma yang dijual bervariasi tergantung jenis dari Rp 30.000 hingga Rp. 300.000. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Setali tiga uang, sang anak usaha, ICBP, membukukan penjualan neto sebesar Rp 46,64 triliun dari tahun sebelumnya Rp 42,29 triliun.

Kenaikan meningkatkan laba bersih emiten produsen mie instan dengan merek Indomie ini sepanjang 2020 menjadi sebesar Rp 6,58 triliun dari tahun sebelumnya Rp 5,03 triliun.

Kemudian, emiten produsen brand susu kemasan Ultra Milk besutan taipan Sabana Prawirawidjaja, ULTJ, memang mencatatkan totalpendapatan yang turun 4,11% menjadiRp 5,96 triliun di sepanjang tahun lalu.


Akan tetapi, meski pendapatan turun, perusahaan produsen minuman asal Jawa Barat ini justru mampu mencetak laba bersih naik 6,53% menjadi Rp 1,1 triliun dari Rp 1,03 triliun di tahun 2019.

Berikutnya, emiten produsen berbagai brand minuman ringan, biskuit hingga bubur dan sereal MYOR masih bisa mencatatkan laba bersih di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pagebluk Covid-19. MYOR membukukan penurunan laba bersih 2,2% sepanjang tahun lalu, menjadi Rp 24,47 triliun sepanjang tahun lalu.

Namun, Mayora masih mampu membukukan peningkatan laba bersih perusahaan yang naik 3,07%, berada di angka Rp 2,06 triliun pada tahu lalu, naik dari Rp 2 triliun tahun 2019.

Berbeda dengan keempat emiten di atas, empat sisanya mengalami koreksi, bahkan ada yang mengalami rugi bersih.

Tentu, dengan catatan, ada tiga emiten yang belum melaporkan kinerja secara tahunan alias masih berdasarkan laporan keuangan per kuartal III, yakni GOOD, FOOD dan KINO. Fundamental ketiga emiten tersebut sama-sama tertekan dalam 9 bulan pertama 2020.

Ambil contoh, kinerja keuangan produsen brand kacang Garuda, GOOD. Akibat pandemi, laba bersih GOOD anjlok 28,79% menjadi Rp 211,94 miliar pada kuartal III tahun lalu. Angka ini turun dari Rp 297,67 miliar pada periode yang sama pada tahun 2019.

Amblesnya laba GOOD sering dengan merosotnya penjualan perusahaan. Pada periode 9 bulan 2020, perusahaan makanan dan minuman yang didirikan oleh pengusaha Sudhamek ini mencatat penurunan penjualan sebesar 9,52% menjadi Rp 5,74 triliun dari sebelumnya Rp 6,34 triliun.

Contoh lainnya, KINO juga mencatatkan penurunan laba bersih yang signifikan hinggal triwulan III 2020. Laba bersih produsen brand permen Kino Candy ini anjlok 63,83% menjadi Rp 161,70 miliar per akhir September 2020, turun dari Rp 447,09 miliar pada periode yang sama 2019.

Penjualan dan pendapatan KINO pun ambles 10,71% menjadi Rp 3,11 triliun, dari Rp 3,48 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

NEXT: Daya Beli Masyarakat Jelang Ramadan

Soal Daya Beli Masyarakat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading