Saham Bluechip vs Emas vs Bitcoin, Siapa Paling Cuan?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
08 April 2021 15:51
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: May Myat Noe (Tangkapan Layar Instagram @maymyatnoe_may)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kemunculan mata uang kripto mendobrak perilaku investasi dalam beberapa tahun terakhir. Investasi yang biasanya dilakukan di saham hingga emas kini mendapat "pesaing" mata uang kripto, yang harganya melesat ribuan persen dalam 2 tahun terakhir meski masih ada perdebatan apakah cocok dijadikan aset investasi atau tidak mengingat pergerakannya yang ekstrim.

Meski masih banyak yang kontra dengan investasi di mata uang kritpo, tetapi tidak bisa dipungkiri harganya yang meroket menarik minat pelaku pasar. Apalagi sejak terjadi pandemi penyakit virus corona (Covid-19) satu tahun silam yang membuat perekonomian global mengalami resesi, kinerja perusahaan-perusahaan tentunya dipertanyakan, yang berdampak pada harga sahamnya. Para pelaku pasar mencari investasi alternatif, dan mata uang kripto salah satu pilihannya.

Saham-saham di dalam negeri memang mulai pulih dari gejolak Covid-19. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini berada di kisaran 6.000, setelah sempat mencapai 6.500 pada 21 Januari lalu. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak April 2019, artinya sebelum pandemi terjadi pada Maret 2020 lalu.


Jika melihat kinerja emiten dalam 2 tahun terakhir, atau sejak akhir 2018, masih ada yang membukukan kinerja negatif, bahkan dari saham-saham blue chip. PT Astra International Tbk (ASII) misalnya, harga sama ASII di akhir 2018 Rp 8.225 per saham, sementara pada akhir kuartal I-2021 di Rp 5.275 per saham. Artinya terjadi penurunan lebih dari 35%, melansir data Refinitiv.

Sementara itu emiten dari sektor finansial kinerjanya cukup apik. Pada periode yang sama saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 19,5%, sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) naik lebih dari 20% dari akhir 2018 hingga 31 Maret lalu.

Baik BBCA maupun BBRI sudah pulih dari kemerosotan pada Maret lalu, saat virus corona dinyatakan sebagai pandemu global. BBCA sempat menyentuh level Rp 21.625 pada 20 Maret, sementara BBRI Rp 2.160 pada 18 Mei 2020.

ASII sempat menyentuh level terendah Rp 3.220 pada 26 Maret 2020, setelahnya perlahan mulai bangkit. Jika melihat posisinya pada akhir kuartal I-2021, dari posisi terendah tahun lalu ASII mampu menguat nyaris 64%.

Kenaikan BBCA dan BBRI sejak akhir 2018 memang lumayan tinggi, tetapi masih kalah dengan aset investasi konvensional lainnya, emas.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Harga Emas Antam Melesat 33%

Harga Emas Antam Melesat 33%
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading