Gainers-Losers

Ciee...Saham Bank Mini Bangkit Usai 'Tidur', Grup Lippo Drop!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
08 April 2021 12:45
Bank Bumi Arta (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Bank Bumi Arta (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) tiba-tiba menjadi top gainers pada sesi I hari ini, seiring kembali bangkitnya saham-saham bank mini (bank dengan modal inti Rp 1 - 5 triliun) setelah sekitar sebulan ditinggalkan pelaku pasar.

Di sisi lain, saham emiten department store milik Grup Lippo terjungkal sebagai top losers , Kamis (8/4/2021).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penguatan sejak 2 hari lalu pada sesi I hari ini. IHSG naik tipis 0,29% ke posisi 6.054,16 pada penutupan sesi I perdagangan, Kamis (8/4)


Menurut data BEI, ada 272 saham naik, 191 saham merosot dan 168 saham tidak bergerak, dengan nilai transaksi mencapai Rp 5,57 triliun dan volume perdagangan mencapai 12,80 miliar saham.

Investor asing pasar saham keluar dari bursa Tanah Air dengan catatan jual bersih asing mencapai Rp 147,31 miliar di pasar reguler. Sementara, asing mencatatkan jual bersih di pasar negosiasi dan pasar tunai sebesar Rp 82,49 miliar.

Berikut 5 saham top gainers dan losers sesi I hari ini (8/4).

Top Gainers

  1. Bank Panin Dubai Syariah (PNBS), saham +16,84%, ke Rp 111, transaksi Rp 76,7 M

  2. Bank QNB Indonesia (BKSW), +16,38%, ke Rp 206, transaksi Rp 29,9 M

  3. Ristia Bintang Mahkotasejati (RBMS), +15,52%, ke Rp 67, transaksi Rp 15,8 M

  4. Zyrexindo Mandiri Buana (ZYRX), +9,56%, ke Rp 745, transaksi Rp 65,6 M

  5. Bank Bumi Arta (BNBA), +8,62%, ke Rp 1575, transaksi Rp 85,4 M

Top Losers

  1. Guna Timur Raya (TRUK), saham -6,45%, ke Rp 174, transaksi Rp 17,9 M

  2. Surya Permata Andalan (NATO), -3,54%, ke Rp 545, transaksi Rp 115,7 M

  3. MD Pictures (FILM), -3,30%, ke Rp 498, transaksi Rp 21,6 M

  4. PT Puradelta Lestari (DMAS), -2,42%, ke Rp 242, transaksi Rp 6,2 M

  5. Matahari Department Store (LPPF), -1,55%, ke Rp 1.590, transaksi Rp 22,7 M

Berdasarkan data di atas, saham bank Grup Panin, PNBS, mencatatkan kenaikan tertinggi, 16,84% ke Rp 111 dengan nilai transaksi Rp 76,7 miliar. PNBS melanjutkan penguatan sejak hari kemarin, saat ditutup melejit 28,38% ke Rp 95/saham.

Selain PNBS, saham emiten BNBA menghuni jajaran top gainers pada sesi I hari ini, dengan naik 8,62% ke Rp 1.575/saham. Nilai transaksi saham ini tercatat sebesar Rp 85,4 miliar.

Setelah tidak pernah menghijau sejak suspensi saham dibuka oleh pihak bursa pada 18 Maret lalu, saham BNBA kembali bangkit sejak Rabu (7/3), ketika ditutup melonjak 9,85% ke Rp 1.450/saham.

Informasi saja, pada 4-17 maret 2021 BEI mengentikan sementara perdagangan saham BNBA setelah saham ini terus bergerak liar dan naik secara signifikan.

Tercatat, dalam dua bulan terakhir BNBA sudah tiga kali kena 'gembok' bursa.

Sebelumnya, dalam surat permintaan penjelasan kepada bursa, pada 8 Maret lalu, pihak BNBA berkomitmen akan memenuhi kewajiban inti minimum sesuai POJK 12/2020. Pihak BNBA juga membuka opsi pengembangan bank digital. Manajemen perusahaan menyebutkan sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Kemudian, BNBA menegaskan sampai saat ini belum ada unicorn atau investor strategis yang berencana mengakuisisi bank.

Kenaikan BNBA diikuti oleh 10 saham bank mini lainnya. Ambil contoh, saham bank mini yang dikuasai CT Group, Bank Harda International (BBHI), menjadi saham bank mini dengan penguatan tertinggi, yakni 25% ke Rp 1.450/saham.

Selain BBHI, saham bank besutan pengusaha Alim Markus, Bank Maspion (BMAS) juga melonjak 20,30% ke Rp 800/saham.

Hari ini, saham bank mini tersebut kembali berbalik arah dan mulai bergairah kembali.

Para pelaku pasar tampaknya mulai melirik kembali saham bank bermodal 'cekak' ini, setelah dalam sepekan terakhir, bahkan sebulan terakhir ditinggalkan oleh investor.

Sehari sampai dua hari sebelumnya, saham bank mini masih dilepas oleh investor dan sahamnya juga ambles. Sepanjang pekan ini, rata-rata saham bank mini ambles hingga hampir 30%, sementara sebulan terakhir saham bank mini telah ambruk hingga lebih dari 50%.

'Euforia' kenaikan saham bank mini beberapa waktu lalu didorong oleh sentimen narasi bank digital dan aturan pemenuhan modal inti oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui POJK No 12/2020.

Peraturan tersebut mengharuskan bank untuk memiliki modal inti minimum bank umum sebesar Rp 1 triliun tahun ini, Rp 2 triliun pada 2021 dan minimal Rp 3 triliun tahun 2022. Dengan aturan tersebut, bank-bank dengan modal mini harus mencari investor strategis untuk menyuntikkan modal.

Berbeda nasib dengan PNBS dan BNBA, saham emiten ritel Grup Lippo, LPPF, terbenam sebagai top losers. LPPF ambles 1,55% ke Rp 1.590/saham.

Kinerja keuangan LPPF pada tahun lalu memang sangat tertekan. Laba bersih Rp 1,36 triliun pada 2019, berbalik menjadi rugi bersih senilai Rp 873,18 miliar pada tahun lalu

Penurunan laba bersih tersebut diiringi anjloknya pendapatan bersih perusahaan, dari Rp 10,27 triliun pada 2019 menjadi Rp 4,83 triliun sepanjang 2020.

Adapun tahun ini LPPF berencana menutup sekitar 6 gerai Matahari lagi tahun ini dari 23 total gerai dalam pengawasan kinerja.

Sebagai informasi, 6 gerai tersebut, yakni gerai Mahahari di Lippo PLZ MAL Yogja, Lippo MAL Kuta, Keboen Raya BGR, Lippo PLZ MAL Gresik, Mayofield TC KWG, dan gerai Matahari di GTC TC Makassar.

Sementara itu, dari 23 gerai dalam pantauan, 6 akan ditutup tahun ini, dan sisanya 17 akan tetap dipantau.

TIM RISET CNBC INDONESIA

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading