BEI Pede! Target IPO Naik Jadi 54 Emiten, Ini Alasannya

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
07 April 2021 18:00
foto : CNBC Indonesia/Muhammad Sabki Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) merevisi target penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) menjadi sebanyak 54 perusahaan di tahun ini. Jumlah tersebut direvisi naik dari target bursa sebelumnya sebanyak 30 perusahaan baru.

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi menjelaskan, ada beberapa pertimbangan revisi kenaikan tersebut. Pertama, saat ini kondisi pasar saham cenderung lebih kondusif ketimbang tahun 2020.

Selain itu, pertimbangan otoritas bursa merevisi target IPO perusahaan tahun ini juga telah mendengar masukan dari anggota bursa (AB) melalui focus grup discussion (FGD).


Sebab menurut Hasan, peran anggota bursa penting untuk mengetahui perusahaan mana saja yang telah menyampaikan minatnya untuk melakukan penawaran umum.

"Jadi jumlah penerbitan IPO baru kita targetkan di angka 54, revisi dari target semula cukup moderat. Kita lihat perkembangan terakhir cukup optimis," kata Hasan Fawzi, dalam penjelasannya kepada awak media, Rabu (7/4/2021).

Selain itu, kata dia saat ini sudah ada sebanyak 12 perusahaan yang mencatatkan saham perdana dan lebih dari 20 perusahaan berada di pipeline pencatatan saham. Dengan demikian, target 54 perusahaan dirasa sudah cukup realistis.

"Mudah-mudahan, kondisi yang kondusif terus berlangsung, sehingga sampai akhir tahun minat pencatatan saham baru terus tinggi," kata dia.

Sampai dengan Rabu ini, ada sebanyak 12 perusahaan yang mencatatkan saham di pasar modal domestik.

Emiten furnitur, PT Imago Mulia Persada Tbk (LFLO) mencatatkan saham perdana di BEI hari ini, Rabu (7/4/2021). Perseroan melepas sebanyak 300 juta saham atau sekitar 23,08% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga penawaran umum Rp 100 per saham. Dari IPO ini, Imago Mulia meraih dana sebesar Rp 30 miliar.

Secara terpisah, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyatakan, sampai dengan 31 Maret 2021 lalu, terdapat 22 perusahaan yang masuk dalam daftar pipeline untuk mencatatkan saham perdana di BEI.

"Sampai dengan tanggal 30 Maret 2021 terdapat 11 perusahaan tercatat baru saham di Bursa Efek Indonesia dan masih terdapat 22 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI di mana setidaknya terdapat 2 perusahaan yang kami harapkan akan tercatat pada waktu dekat ini," ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, kepada awak media, Rabu (31/3/2021).

Nyoman merinci, 22 perusahaan tersebut jika dilihat dari sektornya, 2 perusahaan dari sektor energy, 3 perusahaan dari sektor basic materials, 2 perusahaan dari sektor industrials, 2 perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals.

Selanjutnya, sebanyak 6 perusahaan dari sektor consumer cyclicals, masing-masing 3 perusahaan dari sektor properti dan real estate dan technology dan satu perusahaan dari sektor infrastruktur.

Berdasarkan ukuran skala aset sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53 tahun 2019, sebanyak 7 perusahaan mempunyai aset dengan skala kecil atau di bawah Rp 50 miliar. 10 Perusahaan dengan kategori aset menengah atau di kisaran Rp 50 miliar sampai dengan Rp 250 miliar. Sedangkan, 5 perusahaan lainnya dari perusahaan dengan aset skala besar di atas Rp 250 miliar.

Nyoman melanjutkan, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah total dana IPO yang dihimpun, meningkat 11% menjadi Rp 3 triliun dari sebelumnya Rp 2,7 triliun.

"Dari sisi jumlah pipeline pun meningkat sebesar 120% dibanding pada periode yang sama pada tahun lalu. Hal tersebut menggambarkan besarnya kepercayaan dan optimisme para pengusaha di Indonesia akan pemulihan perekonomian dan juga terhadap Pasar Modal Indonesia pada tahun 2021," imbuh Nyoman.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading