Sri Lanka Blokir Impor Sawit, Harga CPO Tahan Banting!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
06 April 2021 10:52
CPO

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada sentimen buruk yang membuat harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, Selasa (6/4/2021). Kabar kurang mengenakkan tersebut datang dari Sri Lanka. 

Melansir Reuters, Sri Lanka melarang (banned) impor minyak sawit dan pembukaan perkebunan kelapa sawit baru, dan mengatakan kepada produsen untuk mencabut perkebunan yang ada secara bertahap. 

Kabar ini membuat harga kontrak CPO pengiriman Juni 2021 yang aktif ditransaksikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange turun 0,32%. Harga minyak nabati unggulan RI dan Negeri Jiran itu kini berada di RM 3.727/ton.


Impor minyak sawit dan jumlah perkebunan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir di Sri Lanka. Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tujuan dari kebijakan itu adalah untuk membuat negara bebas dari perkebunan kelapa sawit dan konsumsi minyak sawit.

Para ahli lingkungan mengatakan produksi minyak sawit telah menyebabkan deforestasi yang meluas dan kerusakan ekosistem.

Sri Lanka sendiri mengimpor sekitar 200.000 ton minyak sawit setiap tahun, terutama dari Indonesia dan Malaysia. Volumenya memang tidak signifikan sehingga tidak terlalu membuat pasar goyang.

"Perusahaan dan entitas yang telah melakukan budidaya (kelapa sawit) tersebut akan diminta untuk menghapusnya secara bertahap dengan pencabutan 10% sekaligus dan menggantinya dengan budidaya karet atau tanaman ramah lingkungan setiap tahun," mengutip sebuah pernyataan dari kata kantor presiden.

Industri minyak sawit Sri Lanka telah menginvestasikan sekitar US$ 131 juta dan negara tersebut memiliki sekitar 11.000 hektar perkebunan kelapa sawit atau lebih dari 1% dari total area yang ditanami teh, karet dan kelapa, menurut perkiraan asosiasi industrinya.

Kabar mengejutkan ini datang tiba-tiba setelah regulator yaitu Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) memperkirakan peningkatan pendapatan ekspor tahun ini. 

Regulator memperkirakan terjadi peningkatan pendapatan ekspor minyak sawit pada tahun 2021 menjadi RM 75 miliar atau setara dengan US$ 18,12 miliar, naik dari RM 73,25 miliar (US$ 17,69 miliar) tahun lalu.

Regulator industri mempertahankan proyeksi untuk patokan harga minyak sawit mentah dengan rata-rata RM 3.000/ton tahun ini.

"Tahun 2021 diharapkan membawa prospek yang lebih cerah bagi industri kelapa sawit Malaysia dengan semua indikator utama industri diproyeksikan menunjukkan kinerja yang lebih baik," ujar Dirjen MPOB Ahmad Parveez Ghulam Kadir dalam presentasi online sebagaimana diwartakan Reuters.

Bagaimanapun juga harga minyak sawit mentah masih kuat. Apalagi hari ini harga minyak mentah dunia cenderung menguat lebih dari 1%. Kenaikan harga minyak mentah menjadi katalis positif bagi harga minyak sawit karena minyak nabati juga digunakan sebagai salah satu bahan pembuat biodiesel substitusi minyak.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading