Bertahan di Zona Hijau, Rupiah Bisa Tembus Rp 14.500/US$?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
05 April 2021 12:53
valas

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga pertengahan perdagangan Senin (5/4/2021). Sentimen pelaku pasar yang sedang membaik dan dolar AS yang sedang tertekan pasca rilis data tenaga kerja membuat rupiah mampu menguat, meski masih tipis.

Melansir data Refinitiv, rupiah pada hari ini membuka perdagangan dengan menguat 0,07% ke Rp 14.510/US$. Setelahnya rupiah sempat menguat 0,1% ke Rp 14.505/US$, sebelum kembali ke Rp 14.510/US$ hingga pukul 12:00 WIB.

Rupiah berpeluang mempertahankan penguatan di sisa perdagangan hari ini, bahkan tidak menutup kemungkinan menembus RP 14.500/US$. Hal tersebut terindikasi dari pergerakan rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) yang lebih kuat siang ini ketimbang beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan pagi tadi.


PeriodeKurs Pukul 8:54 WIBKurs Pukul 12:54 WIB
1 PekanRp14.559,50Rp14.504,1
1 BulanRp14.588,40Rp14.567,0
2 BulanRp14.662,00Rp14.619,5
3 BulanRp14.716,40Rp14.677,0
6 BulanRp14.886,90Rp14.852,0
9 BulanRp15.059,50Rp15.006,4
1 TahunRp15.234,50Rp15.185,0
2 TahunRp15.952,00Rp15.928,0

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Membaiknya sentimen pelaku pasar global memberikan tenaga bagi rupiah. Membaiknya sentimen pelaku pasar tercermin dari menguatnya mayoritas bursa saham utama Asia.
Tanda-tanda membaiknya sentimen pelaku pasar sudah terlihat sejak Kamis pekan lalu, saat bursa saham AS (Walll Street) menguat, dengan indeks S&P 500 menembus level 4.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Penguatan tersebut dipicu rencana proyek infrastruktur Presiden AS Joseph 'Joe' Biden, senilai US$ 2 triliun.

Di sisi lain, . Departemen Tenaga Kerja AS pada pekan lalu melaporkan tingkat pengangguran di bulan Maret memang turun menjadi 6% dari bulan sebelumnya 6,2%, kemudian penyerapan tenaga kerja diluar sektor pertanian (non-farm payroll) tercatat sebanyak 916.000 orang, terbanyak sejak Agustus 2020 lalu.

Tetapi ada satu yang mengganjal, rata-rata upah per jam turun 0,1% pada bulan lalu, setelah naik 0,3% di bulan sebelumnya. Padahal, upah merupakan komponen penting dalam pemulihan ekonomi AS, serta kenaikan inflasi.

Dengan penurunan rata-rata upah per jam tersebut, laju kenaikan inflasi kemungkinan akan terhambat. Apalagi pada bulan Februari lalu, inflasi AS (yang dicerminkan oleh Personal Consumption Expenditure/PCE inti) tumbuh di 1,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year). Pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan laju Januari 2021 yang sebesar 1,5%.

Inflasi PCE merupakan salah satu acuan bank sentral AS (The Fed) untuk merubah kebijakan moneternya, ketika inflasi masih lemah, maka kebijakan moneter ultralonggar masih akan dipertahankan.

Alhasil, indeks dolar AS melemah merespon data tersebut, dan rupiah mampu menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading