BP Jamsostek Pangkas Investasi, Saham-saham Blue Chip Jeblok!

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
01 April 2021 08:04
Peserta BP Jamsostek konsultasi layanan tanpa kontak fisik dengan virtual di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Cilandak, Kamis (18/6/2020). Layanan secara virtual ini merupakan penerapan sesuai dengan protokol kesehatan tanpa harus kontak langsung antara petugas dan peserta BP Jamsostek dalam rangka mencegah penularan COVID-19. Kepala Kantor Cabang Puspitaningsih mengatakan adanya layanan konsultasi tanpa kontak fisik ini di Cabang Cilandak ini disesuaikan dengan aturan protokol kesehatan dan untuk memutus penyebaran Covid-19.  Kantor cabang ini menyediakan skat-skat yang dilengkapi layar monitor yang terhubung dengan petugas secara video conference untuk kebutuhan komunikasi dan verifikasi data.

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup ambruk pada perdagangan akhir Maret, Rabu (31/3/2021). Indeks bursa saham acuan nasional tersebut ambles hingga 1,42% ke level 5.985,52 pada perdagangan kemarin.

Data perdagangan mencatat sebanyak 118 saham menguat, 396 saham melemah, dan sisanya 120 saham flat. Nilai transaksi bursa pada perdagangan kemarin kembali naik mencapai Rp 12,2 triliun. Namun, investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 1,1 miliar di seluruh pasar.

Saham-saham blue chip pun ambruk pada perdagangan kemarin, sehingga ambruknya saham-saham blue chip tersebut membuat IHSG kembali merana pada perdagangan kemarin.


Adapun penyebab saham-saham blue chip ambruk adalah terkait wacana pengurangan investasi saham dan reksa dana BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek).

Berikut saham-saham blue chip terkait dengan investasi BPJS Ketenagakerjaan yang ambruk dan memberatkan IHSG pada perdagangan Rabu (31/3/2021) kemarin.

Tercatat di posisi pertama terdapat saham industri dasar produsen semen asal Gresik, Jawa Timur, yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang ambruk hingga 4,14% ke level Rp 10.425/unit pada perdagangan kemarin.

Data perdagangan mencatat nilai transaksi saham SMGR mencapai Rp 79 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 7 juta lembar saham. Investor melakukan aksi jual bersih (net sell) di saham SMGR sebanyak Rp 28 miliar di seluruh pasar pada perdagangan kemarin.

Sedangkan di posisi kedua ada saham perbankan 'raja kapitalisasi pasar', yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang ambles 2,81% ke posisi Rp 31.075/unit pada Rabu kemarin.

Tercatat nilai transaksi saham BBCA mencapai Rp 1 triliun dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 44 juta lembar saham. Investor juga melakukan net sell di saham BBCA sebanyak Rp 452 miliar di seluruh pasar pada perdagangan kemarin.

Berikutnya di posisi ketiga masih diduduki oleh saham perbankan anggota Himbara, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang merosot 2,77% ke Rp 6150/unit.

Nilai transaksi saham BMRI mencapai Rp 492 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 79 juta lembar saham. Investor pun melepas saham BMRI sebanyak Rp 91 miliar di pasar reguler pada perdagangan kemarin.

Adapun pelemahan saham blue chip BPJS Ketenagakerjaan yang paling minor dibukukan oleh saham pertambangan batu bara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang melemah 0,38% ke Rp 2.620/unit pada Rabu kemarin.

Nilai transaksi saham PTBA mencapai Rp 63 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 24 juta lembar saham. Investor juga melepas saham PTBA sebanyak Rp 6,7 miliar di pasar reguler pada perdagangan kemarin.

Wacana pengurangan investasi saham dan reksa dana BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) membuat IHSG kembali merana pada perdagangan kemarin, bahkan IHSG pun sempat terjatuh sebesar 2%.

Diketahui BPJS merupakan salah satu investor institusi raksasa sehingga apabila porsi investasi dikerdilkan berpotensi adanya arus uang keluar dari pasar modal dalam jumlah yang lumayan.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan rencana pengurangan investasi tersebut dalam rapat dengar pendapat bersama Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan dan Komisi IX DPR. Langkah ini dilakukan dalam rangka Asset Matching Liabilities (ALMA) Jaminan Hari Tua (JHT). Ada tiga strategi yang disampaikan BP Jamsostek.

"Pertama, strategi investasi dengan melakukan perubahan dari saham dan reksa dana ke obligasi dan investasi langsung sehingga bobot instrumen saham dan reksa dana semakin kecil," jelas Anggoro, Selasa (30/3/2021).

Menurunya, porsi dana investasi JHT di saham dan reksadana mencapai 23,9%, sehingga saat terjadi kontraksi di pasar saham maka berimbas ke keuangan BPJS.

"Dari dana JHT yang kita miliki ada 23% dana kita kelola di instrumen saham dan reksadana. Ini sebabkan salah satunya dana JHT rasio tidak 100%, karena ada pergerakan harga di market sejak 2017," ujarnya dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (30/3/2021).

Ia menambahkan, sejak Desember 2017, Rasio Kecukupan Dana (RKD) program JHT terus mengalami penurunan. Ini disebabkan Indeks Harga Saham Gabungan yang juga menurun.

NEXT: Saham Portofolio BP Jamsostek

Ini Deretan Saham BP Jamsostek
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading