Kuartet Saham Konstruksi BUMN Jeblok Parah Sebulan, Ada Apa?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
29 March 2021 13:29
Progres konstruksi Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) makin dikebut dengan telah selesainya proses perakitan mesin Tunnel Boring Machine (TBM) yaitu alat bor raksasa yang didatangkan khusus dari Zhanghuabang Wharf, Shanghai Tiongkok.  Sejak pertama kali dirakit pada pertengahan Februari 2019,  alat bor raksasa ini kini segera dioperasikan menembus lapisan tanah di bawah tol Cikampek mulai KM 3+300, dari arah Jakarta. (Dok. KCIC)

Jakarta, CNBC Indonesia - Empat saham emiten konstruksi BUMN (Badan Usaha Milik Negara) serempak ambruk pada sesi I perdagangan hari ini, Senin (29/3/2021). Keempat saham tersebut tercatat anjlok dalam sebulan terakhir.

Berikut gerak harga saham konstruksi pelat merah pada sesi I hari ini dan dalam sebulan.


Bila melihat data di atas, saham WSKT mengalami anjlok paling dalam sampai sesi I hari ini, sebesar Rp 3,70% ke Rp 1.300/saham. Adapun dalam sebulan, saham emiten yang resmi melantai di bursa pada 2012 lalu ini sudah anjlok 8,77%.

Padahal, dalam sebulan terakhir, investor asing tercatat masuk ke WSKT dengan membukukan beli bersih Rp 6,06 miliar.

Praktis, dengan pelemahan ini, WSKT sudah terbenam di zona merah selama 8 hari perdagangan beruntun, atau sejak 18 Maret lalu.

Sebelumnya, dua hari lalu WSKT melaporkan rugi bersih Rp 7,38 triliun di sepanjang tahun lalu, dari tahun sebelumnya yang laba bersih Rp 938,14 miliar.

Berdasarkan data laporan keuangan, pendapatan usaha turun 48,73% menjadi Rp 16,19 triliun dari sebelumnya Rp 31,39 triliun.

Beberapa langkah yang dilakukan di antaranya manajemen secara aktif memantau situasi di atas dan mengeksplorasi dan menjalankan strategi-strategi berikut sebagai upaya dalam mengatasi potensi dampak buruk pada kinerja keuangan dan keberlangsungan usaha perusahaan.

Melakukan efisiensi biaya dan optimalisasi belanja modal (capital expenditure) serta selektif dalam perolehan proyek baru yang selaras dengan arahan Kementerian BUMN terkait spesialisasi.

WSKT juga melakukan transformasi bisnis melalui spesialisasi dan pengembangan core competency Waskita untuk menjadi market leader pada champion segmen dan meningkatkan kapabilitas perusahaan.

Perseroan juga melakukan divestasi Jalan tol dan aset lainnya guna meningkatkan kapasitas pendanaan perusahaan dan salah satu sumber pendanaan bagi perusahaan, di antaranya adalah PT Cinere Serpong Jaya, PT Jasamarga Semarang Batang, dan PT Waskita Bumi Wira.

WSKT juga memaksimalkan penyelesaian sisa nilai kontrak per 31 Desember 2020 yang belum dikerjakan Grup Perusahaan di tahun 2021.

Selain WSKT, saham PTPP juga terkoreksi sebesar 1,00% dengan nilai Rp 1.300/saham pada sesi I perdagangan awal pekan ini.

Dalam sebulan, saham perusahaan yang berdiri pada 1953 ini ini sudah menyusut 8,36%.

Anjloknya saham PTPP ini juga dibayangi aksi jual bersih asing sebesar RP 7,85 miliar dalam sebulan belakangan.

Sementara, dalam seminggu, saham ini hanya menguat pada Jumat (26/3), yakni sebesar 1,01% ke Rp 1.495/saham. Dengan begitu, saham PTPP sudah merosot 6,62% dalam sepekan.

Sepanjang tahun lalu, kinerja keuangan PTPP kurang menggembirakan.

Induk usaha PT PP Properti Tbk (PPRO) ini terpaksa membukukan penurunan laba bersih yang tajam hingga 84,28% secara tahunan (year on year/YoY).

Tahun lalu, laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 128,75 miliar, jatuh dari posisi akhir 2019 yang senilai Rp 819,46 miliar.

Adapun dalam sebulan, saham ADHI menjadi yang paling jeblok di antara ketiga saham konstruksi pelat merah lainnya, yakni sebesar 12,27%.

Mirip dengan WSKT, meskipun ambles, asing ramai-ramai mengoleksi saham perusahaan yang beroperasi sejak 1961 ini sebesar Rp 10,75 miliar.

Seperti PTPP, tercatat dalam sepekan terakhir, saham ADHI hanya menghijau pada Jumat lalu (26/3). Alhasil, saham ini sudah merosot 7,25% dalam seminggu belakangan.


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading