'Suntik' Rp 144 T ke SWF RI, Seberapa Raksasa SWF Abu Dhabi?

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
25 March 2021 10:43
Abu Dhabi's Crown Prince Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, left, and Indonesian President Joko Widodo wave at photographers during their meeting at the presidential palace in Bogor, Indonesia, Wednesday, July 24, 2019. (AP Photo/Dita Alangkara, Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertengahan Maret ini pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan bakal melakukan investasi sebesar US$ 10 miliar atau setara Rp 144 triliun (kurs Rp 14.400/US$) ke sovereign wealth fund (SWF) milik pemerintah Indonesia yakni Indonesia Investment Authority (INA).

Investasi tersebut bahkan diarahkan langsung Sheikh Mohammed bin Zayed bin Sultan Al Nahyan, yang merupakan Putra Mahkota Abu Dhabi sekaligus Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA.

Uni Emirat Arab juga memiliki SWF, akan tetapi mereka tidak pernah mempublikasikan jumlah aset yang dimiliki.


Sebagai informasi, UEA adalah negara federasi dari tujuh emirat yakni Abu Dhabi, Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah dan Umm al-Qaiwain.

Meski aset SWF-nya tak disebutkan secara resmi, The Economist memprediksi angka tersebut mencapai US$ 875 miliar, atau setara Rp 12.250 triliun (kurs Rp 14.000), The Sovereign Wealth Fund Institute memberikan angka estimasi yang lebih moderat yakni sebesar US$ 580 miliar atau setara Rp. 8.120 triliun.

Angka tersebut tentu bisa disebut raksasa jika dibandingkan modal awal 'kerdil' SWF Indonesia yang hanya sebesar Rp 15 triliun seperti yang tercantum dalam UU Cipta Kerja yang baru disahkan tahun lalu.

Sheikh Mohammed bin Zayed bin Sultan Al Nahyan juga merupakan Wakil Ketua Dewan Direksi Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), lembaga khusus yang mengelola SWF milik UEA.

Seperti kebanyakan SWF lain, lembaga tersebut awalnya didirikan untuk mengelola dana surplus hasil penjualan minyak.

Asal-usul ADIA dapat ditelusuri hingga tahun 1960-an, ketika para pejabat pemerintahan kolonial Inggris menjalankan sebuah badan investasi untuk mengelola pendapatan dari minyak, sumber daya alam yang telah ditemukan tahun 1930-an.

Tidak lama setelah memperoleh kemerdekaan pada tahun 1971, UAE resmi mendirikan ADIA tahun 1976.

Berdasarkan laporan terbaru yang diterbitkan di situs resminya, ADIA mengelola portofolio investasi global yang terdiversifikasi pada lebih dari 24 kelas aset dan sub-kategori.

Pada market outlook jangka panjang mereka, ADIA mencatat bahwa pandemi Covid-19 telah menyebabkan melemahnya ekonomi global dengan dampak jangka panjang yang masih belum diketahui jelas. ADIA juga mencatat bahwa saat ini layanan finansial lebih kuat disbanding saat krisis global 2008.

ADIA mengatakan bahwa saat ini pertimbangan terhadap perubahan perubahan iklim serta tata kelola lingkungan, sosial dan perusahaan (ESG) mulai dikedepankan oleh para investor.

ADIA juga meramalkan bahwa perkembangan teknologi akan membawa perubahan fundamental terhadap industri investasi dalam satu decade ke depan.

Abu Dhabi's Crown Prince Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan and Indonesian President Joko Widodo are greeted by students during a meeting at the presidential palace in Bogor, Indonesia, July 24, 2019. Mast Irham/Pool via ReutersFoto: Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Putra Mahkota Abu Dhabi (Mast Irham/Pool via Reuters)
Abu Dhabi's Crown Prince Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan and Indonesian President Joko Widodo are greeted by students during a meeting at the presidential palace in Bogor, Indonesia, July 24, 2019. Mast Irham/Pool via Reuters

Hal tersebut di atas menjadi dasar pengambilan keputusan atas di mana dan bidang apa dana kekayaan tersebut boleh diinvestasikan.

Saat ini, porfofolio investasi jangka panjang milik ADIA tersebar di empat pasar utama yaitu Amerika Utara dengan minimal 35% dan maksimal 50%, Eropa minimal 20% dan maksimal 35%, negara maju di Asia minimal 10% dan maksimal 20%.

Terakhir ADIA juga menginvestasikan dana SWF mereka di negara-negara berkembang atau emerging markets minimal 15% dan maksimal 25%.

Jika menggunakan estimasi dari The Sovereign Wealth Fund, setidaknya akan ada dana investasi sebesar US$ 87 miliar atau Rp. 1.218 triliun yang mengalir di emerging market.

Dana tersebut diinvestasikan di berbagai sektor mulai dari surat berharga pemerintah (government bonds), pasar saham, saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah private equity, real estate hingga infrastruktur.

Portofolio yang dikelola terbagi menjadi 45% investasi pasif dan 55% investasi aktif, dengan 45% dikelola secara internal dan selebihnya dikelola secara eksternal.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

SWF Jokowi Baru Sebulan, UEA Minat Suntik Dana Investasi


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading