Gainers-Losers

Emiten-emiten Cilik Juara, Saham Grup Bakrie Babak Belur!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
24 March 2021 16:33
Ardi Bakrie/Instagram Foto: Ardi Bakrie/Instagram

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memerah hari ini, melanjutkan tren pelemahan selama 3 hari beruntun. IHSG anjlok dalam meninggalkan level 6.200 sebesar 1,54% ke posisi 6.156,14 pada penutupan sesi II perdagangan, Rabu (24/3/2021).

Menurut data BEI, ada 110 saham naik, 390 saham merosot dan 126 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 11,11 triliun dan volume perdagangan mencapai miliar 17,36 saham.

Investor asing pasar saham masuk ke Indonesia dengan catatan beli bersih asing mencapai Rp 54,93 miliar di pasar reguler. Sementara, asing mencatatkan jual bersih di pasar negosiasi dan pasar tunai sebesar Rp 31,22 miliar.


Berikut 5 saham top gainers dan losers sesi I hari ini (24/3).

Top Gainers

  1. Era Mandiri Cemerlang (IKAN), saham +34,41%, ke Rp 125, transaksi Rp 47,5 M

  2. Bank Amar Indonesia (AMAR), +24,65%, ke Rp 354, transaksi Rp 21,2 M

  3. Cahayasakti Investindo Sukses (CSIS), +13,04%, ke Rp 78, transaksi Rp 29,9 M

  4. Diagnos Laboratorium Utama (DGNS), +10,07%, ke Rp 820, transaksi Rp 139 M

  5. Guna Timur Raya (TRUK), +9,76%, ke Rp 180, transaksi Rp 8,2 M

Top Losers

  1. Bumi Resources (BUMI), saham -6,85%, ke Rp 68, transaksi Rp 54,7 M

  2. Indika Energy (INDY), -6,73%, ke Rp 1.595, transaksi Rp 65,4 M

  3. Eagle High Plantations (BWPT), -6,72%, ke Rp 125, transaksi Rp 28,1 M

  4. Visi Media Asia (VIVA), -6,67%, ke Rp 56, transaksi Rp 16,8 M

  5. Bank Artha Graha Internasional (INPC), -6,60%, ke Rp 198, transaksi Rp 46,9 M

Menurut data di atas, saham emiten produsen dan pemasok produk makanan laut IKAN menjadi pemuncak top gainers setelah melejit 34,41% ke Rp 125/saham. Nilai transaksi IKAN sebesar Rp 47,5 miliar.

IKAN kembali menguat sejak kemarin (23/3), setelah sebelumnya selama 11 hari perdagangan berkubang di zona merah. Dalam sepekan, IKAN sudah melesat 12,61%, sementara dalam sebulan, sudah melejit 83,82%.

Sementara, ada tiga saham Grup Bakrie yang terjerembap di zona merah sebagai top losers pada sesi II hari ini. Ketiganya yakni BUMI, VIVA dan MDIA.

BUMI ambruk dan menyentuh auto rejection bawah (ARB) sebesar 6,85% ke Rp 68/saham.

Dengan demikian, pelemahan ini menghentikan reli penguatan yang sudah terjadi selama empat hari beruntun. Selama sepekan, saham saham produsen emas hitam yang berdiri sejak 1973 ini masih mencatatkan kenaikan 13,33%, sementara dalam sebulan naik 9,68%.

Sebelumnya, BUMI menargetkan produksi tahun ini maksimal mencapai 90 juta ton, dengan kisaran 85-90 juta ton. Target ini naik 11% dibandingkan realisasi produksi pada 2020 sebanyak 81 juta ton.

Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan, perusahaan memanfaatkan momentum melesatnya harga batu bara untuk mendapatkan harga terbaik, menjaga dan meningkatkan pangsa pasar, serta efisiensi perusahaan.

Sepanjang 2020 pun perusahaan mampu menjaga produksi agar tidak anjlok meski pandemi Covid-19 menghantam.

Selain itu, BUMI berencana melakukan diversifikasi usaha dalam jangka menengah, setelah menyelesaikan kewajiban utangnya. Diversifikasi usaha dilakukan melalui hilirisasi batu bara melalui proyek gasifikasi, dan juga produksi emas melalui anak usahanya.

Fokus lainnya adalah emas dan zinc untuk menyambut potensi Indonesia sebagai salah satu produsen mobil listrik dan baterainya.

Selain BUMI, saham VIVA juga menyentuh ARB 6,67% ke Rp 56/saham. Nilai transaksi induk emiten media Grup Bakrie ini sebesar Rp 16,8 miliar.

Dengan demikian, saham emiten yang didirikan pada 2004 ini sudah anjlok selama lima hari perdagangan berturut-turut, atau sejak Kamis pekan lalu (18/3).

Praktis, saham VIVA sudah terjun 28,21% dalam sepekan, sementara dalam sebulan saham ini sudah tumbuh 12,00%.

Seperti induknya, saham MDIA juga merosot dan berada di posisi sembilan top losers setelah anjlok 5,88% ke Rp 64/saham dengan nilai transaksi Rp 12,3 miliar.

Saham MDIA tercatat sudah terbenam di zona merah selama enam hari perdagangan beruntun.

Dengan pelemahan ini, saham emiten yang melantai di bursa sejak 2014 ini sudah terperosok sedalam 28,09% selama sepekan. Adapun dalam sebulan terakhir, saham MDIA ambles 5,88%.

Pekan lalu, pemegang saham VIVA menyetujui rencana penjualan sebanyak 39% saham perseroan di PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), induk PT Cakrawala Andalas Televisi (CATV) sebagai perusahaan pengelola ANTV, kepada Reliance Capital International Limited (RCIL). Jumlah saham yang dilepas tersebut setara dengan 15,29 miliar saham.

Reliance Capital International Limited (RCIL) adalah pihak yang disetujui kreditur untuk melaksanakan jual beli saham tersebut. Penjualan saham MDIA tersebut dilakukan dengan nilai USD 171,8 juta, setara dengan Rp 2,43 triliun atau Rp 158 per saham.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IKAN-ZBRA Jadi Top Gainers, Saham-saham Grup Bakrie Anjlok!


(adf/adf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading