Usai Rilis Lapkeu, Saham ANTM Ambruk! Asing Jualan Rp 119 M

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
15 March 2021 10:31
Petugas menunjukkan koin emas Dirham di Gerai Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Bank Indonesia (BI) mengajak masyarakat dan berbagai pihak untuk menjaga kedaulatan Rupiah sebagai mata uang NKRI.    (CNBC Indonesia/ Tri Susislo)

Jakarta, CNBC Indonesia -  Harga saham emiten BUMN penambang mineral, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tiba-tiba anjlok 4,96% di level Rp 2.310/saham pada awal perdagangan sesi I, Senin ini (15/3/2021) kendati laba bersihnya melesat di tahun lalu.

Data BEI mencatat saham ANTM minus 4,96% pada pukul 10.23 WIB, dengan nilai transaksi saham Rp 482 miliar dengan volume perdagangan 204 juta saham.

Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 55,51 triliun. Dalam sepekan terakhir saham ANTM minus 5%, sebulan anjlok 20% kendati sejak awal tahun saham produsen logam mulia emas Antam ini naik 18%. 


Investor asing hari ini melepas saham ANTM Rp 119 miliar, sepekan asing keluar Rp 243 miliar, tapi sebulan asing masuk Rp 1,42 triliun. 

Antam baru saja melaporkan kinerja laporan keuangan (lapkeu) yang positif di tahun lalu. Pasalnya laba bersih perusahaan selama 2020 meroket hingga 492,90% secara tahunan (year on year (YoY).

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan, tercatat laba bersih ANTM tahun lalu mencapai Rp 1,14 triliun. Dibanding dengan laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 193,85 miliar.

Padahal kinerja pendapatan mengalami penurunan 16,33% YoY menjadi senilai Rp 27,37 triliun dari posisi 31 Desember 2019 yang senilai Rp 32,71 triliun.

Kendati pendapatan turun, namun perusahaan berhasil menurunkan angka beban pokok penjualan menjadi Rp 22,89 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 28,27 triliun.

Beban umum dan administrasi juga berhasil didorong turun menjadi Rp 1,91 triliun dari sebelumnya Ro 2,07 triliun. Pengurangan beban paling besar juga terjadi pada beban penjualan dan pemasaran yang berhasil turun menjadi Rp 533,09 miliar dari sebelumnya Rp 1,44 triliun.

Penambang emas dan nikel ini pada 31 Desember 2020 juga tercatat berhasil mengantongi keuntungan dari entitas asosiasi senilai Rp 128,50 miliar. Sedangkan di periode sebelumnya masih merugi Rp 88,09 miliar.

Kerugian kurs sepanjang tahun lalu juga berkurang menjadi Rp 134,40 miliar dari Rp 235,71 miliar.

Namun demikian, terjadi sedikit pengurangan pada pendapatan keuangan perusahaan menjadi Rp 110,37 miliar dari Rp 120,44 miliar.

Dalam keterangan resminya, ANTM menargetkan produksi emas sepanjang 2021 sebanyak 1,37 ton emas dari tambang Pongkor (Bogor, Jawa Barat) dan Cibaliung (Banten) dan target penjualan sebanyak 18 ton emas.

Sebagai perbandingan, tahun lalu secara akumulatif, capaian kinerja unaudited produksi dan penjualan emas Antam sepanjang 2020 masing-masing sebesar 1.672 kg atau 1,67 ton (53.756 t oz) dan 21.797 kg atau 21,79 ton (700.789 t oz).

Artinya target tahun ini target produksi turun 17,9% dan target penjualan turun 17,39%.

Penjualan emas 2020 ini turun sebesar 36% dari tahun sebelumnya yakni sebesar 34.023 kg. Sedangkan, dari sisi produksi juga terkoreksi 17% dari tahun sebelumnya yakni 1,963 kg dari tambang yang sama.

Sedangkan untuk produksi dan penjualan feronikel tahun ini ditargetkan sebanyak 26 ribu ton nikel dalam feronikel (TNi). Target ini tak jauh berbeda dari capaian produksi dan penjualan di tahun lalu yang masing-masing 25.970 TNi dan 26.163 TNi.

"Target produksi tersebut sejalan dengan optimalisasi produksi pabrik feronikel Pomalaa di Sulawesi Tenggara," tulis keterangan perusahaan.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading