Pantau Rilis Inflasi, Kontrak Futures Saham AS Bergerak Mixed

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
10 March 2021 19:18
People walk by a Wall Street sign close to the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., April 2, 2018. REUTERS/Shannon Stapleton

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) bergerak variatif pada perdagangan Rabu (10/3/2021), karena investor masih memantau pengumuman inflasi dan arah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Menurut polling Dow Jones, indeks harga konsumen (IHK) per Februari diprediksi sebesar 0,4% secara bulanan, sementara inflasi inti (yang tak memasukkan bahan makanan dan energi) sebesar 0,1%.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average menguat 55 poin, mengindikasikan bahwa indeks berisi 30 saham unggulan ini akan dibuka naik 0,2%. Namun, kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq justru tertekan, masing-masing sebesar 0,2% dan 0,6%.


Usai disahkannya stimulus US$ 1,9 triliun di Senat, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS berjatuh tempo 10 tahun sedikit menguat di kisaran 1,56%. Investor juga memantau ketat lelang hasil penyerapan SBN tenor 10 tahun senilai US$ 38 miliar.

Pasar memantau pengesahan stimulus US$ 1,9 triliun yang akan diteken oleh Presiden AS Joe Biden pada akhir pekan. Paket tersebut juga bakal menyertakan manfaat tunjangan pengangguran baru senilai US$ 300 per pekan dan bantuan langsung tunai (BLT) senilai US$ 1.400.

Namun, saham teknologi berbalik menguat pada Selasa kemarin sehingga indeks Nasdaq melesat 3,7% atau menjadi yang terbaik sejak November. Sebelumnya pada Senin, indeks berisi saham unggulan teknologi ini longsor lebih dari 10% dari rekor tertingginya.

Saham Tesla melesat 19,6% atau menjadi reli harian terbaik sejak Februari 2020. Saham Apple dan Facebook juga kompak meroket lebih dari 4%, diikuti Amazon yang melesat 3,8%. Namun di sesi pra-pembukaan hari ini, saham Tesla turun 1% sedangkan Apple surut tipis.

"Koreksi... menciptakan titik balik alami bagi pelaku pasar," tutur Chris Larkin, Direktur Pelaksana dan Produk Investasi E-Trade Financial, sebagaimana dikutip CNBC International.

Pembalikan kemarin ke zona hijau itu berbarengan dengan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang menjadi acuan pasar. SBN tenor 10 tahun tersebut melemah lebih dari 5 basis poin menjadi 1,54% setelah pada Senin menyentuh angka 1,62%.

Investor akan memantau rilis data inflasi untuk mengukur apakah kenaikan harga berjalan terlalu cepat. Meningginya ekspektasi inflasi telah memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang membuat saham teknologi tertekan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading