Ini 3 Hal yang Bikin Harga CPO Terbang ke Harga RM 3.925/Ton

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
09 March 2021 12:45
Bongkar Muat Minyak Crude Palm Oil (CPO) (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tembus rekor lagi. Kini harga minyak nabati unggulan ekspor Malaysia tersebut tembus ke level tertinggi dalam 10 tahun. 

Harga kontrak CPO pengiriman Mei yang aktif diperjualbelikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange naik 1,2% jelang penutupan sesi perdagangan pertama. Sebelum istirahat harga kontrak tersebut menyentuh RM 3.925/ton.

Dengan kenaikan tersebut, kini harga minyak nabati dari kelapa sawit itu berada di posisi tertingginya sejak 12 Februari 2011. 


Kenaikan harga CPO bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor pemicunya. Setelah pelaksanaan program biodiesel B20 di Negeri Jiran tertunda, ada kabar yang menyebut bahwa program tersebut akan dimulai bulan Juni tahun ini. 

Pemerintah Malaysia bertujuan untuk meluncurkan program biodiesel B20 di Sabah pada bulan Juni dan di Semenanjung Malaysia mulai Desember. Hal tersebut dikatakan oleh Sekjen Kementerian Perindustrian Malaysia Ravi Muthayah kepada NewsRise dalam sebuah wawancara.

"Kapan wajibnya akan tergantung pada harga bahan bakar fosil, harga minyak sawit mentah dan faktor lainnya," kata Muthayah. "Bukan hanya kami yang menerima panggilan, ini juga melibatkan kementerian keuangan."

Awalnya, program yang mengacu pada 20% campuran minyak sawit dalam bahan bakar untuk sektor transportasi, dijadwalkan akan diluncurkan di Sabah mulai 1 Januari tahun ini dan di Semenanjung Malaysia mulai 15 Juni.

Inisiatif tersebut, telah dilaksanakan di Sarawak mulai September. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan konsumsi minyak nabati di produsen komoditas terbesar kedua di dunia tersebut.

Pelaksanaan penuh program Biodiesel B20 untuk sektor transportasi di seluruh Malaysia diharapkan dapat mengkonsumsi 1,06 juta ton minyak sawit mentah setiap tahun dan juga membantu dalam memangkas intensitas emisi gas rumah kaca sebesar 3,2 juta ton ekuivalen karbon dioksida per tahun, sebagaimana diwartakan Reuters.

Beralih ke dalam negeri, BUMN energi yakni PT Pertamina (Persero), telah menetapkan target untuk memulai produksi diesel hijau dan bahan bakar turbin penerbangan hijau (avtur) di kilang Cilacap pada akhir 2021.

"Pengembangan green energy merupakan implementasi dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan memaksimalkan potensi pasokan minyak sawit yang melimpah sebagai sumber energi terbarukan," kata Corporate Secretary Subholding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional Ifki Sukarya.

Kilang hijau yang berlokasi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah tersebut memiliki kapasitas produksi tiga ribu barel solar hijau per hari dan enam ribu barel per hari untuk jenis avtur.

Pada Januari 2021, Pertamina telah menguji produksi green diesel yang menggunakan Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO).

Melansir Reuters, Pertamina akan melakukan pengembangan green diesel dan green avtur dalam dua tahap. Pertama, akan mengolah tiga ribu barel RBDPO per hari untuk menghasilkan green diesel mulai Desember. Tahap kedua, Pertamina akan mengolah enam ribu barel CPO per hari menjadi green avtur mulai Desember 2022 akhir.

Pada April 2020, Pertamina sudah mulai memproduksi green bensin di green refinery di Plaju, Sumatera Selatan, dengan tingkat oktan sama dengan Pertamax.

Pengembangan green refinery Pertamina ini diharapkan bakal memberi dampak ganda berupa peningkatan nilai ekonomi minyak sawit di Indonesia dan menekan impor bahan bakar fosil mentah yang selama ini membuat neraca dagang, transaksi berjalan hingga nilai tukar rupiah tekor. 

Sentimen lain yang juga turut menjadi katalis positif untuk harga minyak sawit adalah kenaikan harga minyak mentah. Serangan drone ke fasilitas minyak Saudi Aramco dan pengesahan RUU stimulus fiskal senilai US$ 1,9 triliun di AS membuat harga minyak mentah terbang. 

Ketika harga minyak mentah naik, maka harga CPO dan minyak nabati lainnya akan cenderung ikut terkerek naik. Hal ini disebabkan karena minyak nabati seperti halnya CPO juga digunakan sebagai bahan baku biodiesel yang menjadi sumber energi alternatif minyak.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading