Kabar Bank Digital-Dicaplok Unicorn, Ini Jawaban Artha Graha

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
08 March 2021 17:10
Dok Bank Artha Graha Internasional

Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen PT Bank Artha Graha Internasional (INPC) buka suara terkait dengan sejumlah isu yang beredar mengenai perusahaan, termasuk terkait isu bank digital dan akuisisi oleh perusahaan unicorn atau startup dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun.

Dalam keterangan terkait permintaan penjelasan bursa, pada Senin (8/3/2021), pihak INPC menegaskan belum memiliki rencana untuk masuk dalam bank digital.

Berkaitan dengan hal tersebut, INPC juga mengaku belum berencana untuk melakukan strategi usaha saat ini.


Selain itu, seiring santernya rumor akuisisi oleh sejumlah unicorn besar ke bank-bank mini Tanah Air, manajemen INPC menjelaskan, hingga saat ini tidak ada unicorn yang berencana 'mencaplok' perusahaan.

"Tidak ada unicorn yang berencana melakukan akuisisi atas saham perseroan," jelas Sekretaris Perusahaan Susana dalam keterangannya, Senin (8/3).

Kemudian, berkaitan dengan kewajiban bank mini untuk memenuhi modal inti minimum sesuai Peraturan OJK Nomor 12/POJK.03/2020, INPC berkomitmen akan melakukan pemenuhan modal inti minimum sebesar Rp 3 triliun sebelum Desember 2022

Informasi saja, menurut peraturan OJK No 12/2020 di atas, bank diharuskan memiliki modal inti minimum bank umum sebesar Rp 1 triliun tahun ini, Rp 2 triliun pada 2021 dan minimal Rp 3 triliun tahun 2022.

Manajemen INPC juga menjelaskan, rencana perseroan dalam memenuhi kewajiban modal inti minimum tersebut sudah disampaikan ke OJK dalam RBB (Rencana Bisnis Bank) 2021-2023.

Selain itu, Pihak INPC juga sudah mencantumkan juga dalam time table tersebut Rencana Perseroan, yaitu dengan pertumbuhan modal secara organik.

Upaya pertumbuhan modal tersebut dilakukan dengan cara, antara lain, pada Juni 2021 akan dilakukan penerbitan Long Term Notes (LTN) Subordinasi I Tahap II. "[Nilai penerbitan] Rp 300 miliar yang akan digunakan untuk ekspansi usaha perseroan," tulis manajemen INPC.

Selanjutnya, INPC juga akan melakukan perbaikan persentase biaya operasi pendapatan operasi (BOPO) secara bertahap melalui berbagai upaya peningkatan pendapatan bank, dan melakukan efisiensi dan pengendalian beban operasi Perseroan.

Ketiga, akan dilakukan pula penyelesaian AYDA (agunan yang diambilalih) dari perseroan tahun 2021. "Diproyeksikan penjualan sebesar Rp 1,2 triliun," jelas Susana.

Menjawab pertanyaan otoritas bursa terkait rencana penggabungan usaha atau akuisisi oleh pihak lain, manajemen INPC menyatakan, perusahaan belum mempunyai rencana untuk melakukan penggabungan usaha atau pengambilalihan saham perseroan oleh pihak lain.

Terkait komitmen perusahaan terhadap ketentuan saham free float (saham minimal publik), INPC menjelaskan, sampai saat ini perusahaan belum berencana dalam penerbitan saham dan efek bersifat ekuitas, selain saham yang diterbitkan oleh perusahaan tercatat.

Sebagai informasi, menurut ketentuan V.1 Peraturan Bursa No. I-A terkait free float, jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham bukan pengendali dan bukan pemegang saham utama alias saham publik paling sedikit 50 juta saham dan paling sedikit 7,5% dari jumlah saham dalam modal disetor.

Sementara menurut ketentuan V.2, jumlah pemegang saham paling sedikit sebanyak 300 nasabah pemilik rekening.

Lebih lanjut, INPC juga menegaskan tetap berkomitmen tetap tercatat di Bursa sebagaimana perseroan terbuka.

Terakhir, manajemen INPC menjelaskan, hingga saat ini tidak ada informasi/fakta/kejadian penting lainnya yang material dan dapat mempengaruhi harga efek perusahaan serta kelangsungan hidup perseroan yang belum diungkapkan kepada publik.

Selama seminggu, INPC sudah melesat 25,00%, sementara dalam sebulan saham bank mini ini sudah meroket 332,43%. Bahkan, secara year to date (YTD), saham tersebut sudah membubung tinggi 527,45%.

Adapun pemegang saham perusahaan yang Wakil Komisarisnya dijabat pengusaha ternama Tomy Winata ini ialah PT Cakra Inti Utama yang memegang kepemilikan INPC sebanyak 2.467.990.263 saham atau 15,62%.

Lalu secara berturut-turut, ada PT Cerana Artha Putra 1.322.157.253 saham atau 8,37%, PT Arthamulia Sentosajaya 830.745.581 saham atau 5,26%, PT Pirus Platinum Murni 825.529.475 saham atau 5,23%, dan PT Puspita Bisnispuri 825.529.472 saham atau 5,23%.

Kemudian, PT Karya Nusantara Permai memegang 712.647.774 saham atau 4,51% dan masyarakat 8.811.595.379 saham atau setara 55,78%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Prank Lagi? Pagi Terbang, Sore Saham Bank Kecil Nyaris ARB


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading