Balas Dendam, Wall Street 'Pesta Pora' Menguat Nyaris Rata 2%

Market - CNBC Indonesia, CNBC Indonesia
06 March 2021 06:58
Markets Wall Street. (AP/Courtney Crow)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengakhiri perdagangan pekan ini dengan menguat cukup signifikan. Indeks di Wall Streer naik 1% lebih karena ada keyakinan ekonomi AS pulih yang ditandai dengan adanya inflasi.

Indeks Dow Jones menguat 1,9% ke level 31.496,30, indeks S&P 500 menguat 2% ke level 3.841,94 dan Nasdaq menguat 1,6% ke level 12.920,14.

Wall Street pekan ini sempat mengalami tekanan minggu ini karena imbal hasil obligasi AS naik. Selain itu, pada investor juga mulai mempertanyakan pemulihan AS dari pandemi Covid-19, saat Gedung Putih sedang mengupayakan stimulus US$ 1,9 triliun yang sedang diproses melalui Kongres. 


Namun, data pemerintah yang menunjukkan ekonomi AS ada 379.000 lowongan pekerjaan, ini lebih baik dari perkiraan pada Februari dan membantu mendorong indeks utama ditutup positif..

"Itu adalah data yang bagus tapi masih jauh dari pekerjaan penuh," kata Peter Cardillo dari Spartan Capital Securities mengomentari data laporan ketenagakerjaan.

Pekan ini, kekhawatiran inflasi menyebabkan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak menjadi hampir 1,6%. Menurut Peter, jika yield stabil pada level tersebut "aman untuk mengatakan bahwa kemunduran bisa saja berakhir."

Sementara itu, peluncuran vaksin virus korona, perlambatan infeksi, pelonggaran lockdown dan stimulus baru AS menghidupkan kembali perekonomian. Namun investor semakin khawatir bahwa kebijakan moneter ultra-stimulatif - pilar utama dari lonjakan ekuitas selama setahun - akan berkurang jika inflasi melonjak.

Prospek itu mendorong dolar ke level tertinggi tiga bulan terhadap euro pada hari Jumat dan merusak saham di Asia dan dalam perdagangan pagi di Eropa.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada hari Kamis menegaskan kembali bahwa The Fed tidak akan memperketat kebijakan sampai tujuan dari lapangan kerja penuh dan inflasi yang konsisten di atas 2,0 persen telah terpenuhi - dan itu mungkin akan memakan waktu lama.

Para trader sempat kecewa karena Powell tidak menunjukkan ia akan bertindak untuk meredakan kenaikan imbal hasil obligasi baru-baru ini, dan imbal hasil Treasury 10-tahun melanjutkan kenaikannya setelah pidatonya.

Imbal hasil naik karena harga obligasi turun, dan investor bergegas keluar karena inflasi akan memakan keuntungan mereka dari waktu ke waktu, memicu aksi jual minggu lalu di pasar dunia.

"The Fed tidak akan bisa mengembalikan jin kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," analis pasar Stephen Innes dari Axi memperingatkan.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading