Bunga Acuan BI Turun Banyak, Kok Bunga Bank Masih Tinggi?

Market - Monica Warez, CNBC Indonesia
04 March 2021 14:25
Dirut BRI Sunarso

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Sunarso menyebutkan kendala utama yang menyebabkan sulitnya suku bunga perbankan di Indonesia turun adalah tingginya komponen overhead cost yang perlu dikeluarkan. Bahkan biaya ini di Indonesia, menjadi yang paling tinggi di kawasan Asia.

Dia menyebutkan tingginya biaya ini disebabkan karena pelayanan perbankan, terutama BRI dilakukan hingga ke pelosok negeri. Hal ini dipersulit dengan kondisi geografis yang kurang menguntungkan sehingga biaya-biaya yang perlu dikeluarkan juga menjadi sangat tinggi.

"Overhead cost di perbankan itu memang masih tinggi. Kenapa masih tinggi? Saya punya data operational cost kita itu perbankan di Indonesia paling tinggi di semua, termasuk di kawasan Asia. Kenapa? Karena kita ditakdirkan negaranya kepulauan," kata Sunarso dalam Webinar Universitas Indonesia dan Kementerian BUMN, Kamis (4/3/2021).


Meski saat ini banyak bank telah menerapkan sistem online, namun tetap saja biaya operasional yang dikeluarkan masih terbilang besar. Sebab saat ini sistem online baru efektif digunakan di kota besar saja, sedangkan untuk menjangkau wilayah terpencil tetap harus dilakukan pendekatan secara konvensional.

"Makanya kemudian sampai BRI invest satelit sendiri dan menggunakan satelit itu tidak murah, tetapi harus kita lakukan. Dan juga kalah efektif, kalah cepat kalau menggunakan MPLS menggunakan fiber optic tapi ya kita harus invest itu kenapa, supaya tetap terjangkau," terangnya.

Untuk itu dia tak bisa menegaskan bahwa biaya operasional bank yang dipimpinnya ini tak bisa dibandingkan dengan bank-bank yang hanya beroperasional di kota besar saja.

Komponen inilah yang menjadikan perbankan sulit untuk melakukan penurunan suku bunga kredit kepada nasabahnya. Tingginya suku bunga kredit ini masih terjadi kendati saat ini tingkat bunga Bank Indonesia (BI) telah berada pada posisi 3,5%.

Hal lainnya adalah tingkat permintaan kredit yang rendah saat ini juga memengaruhi besaran bunga yang diberikan.

Sunarso menjelaskan, penyaluran kredit yang belum optimal ini menyisakan dana mengendap di perbankan. Dana ini juga memiliki biaya yang harus dibayarkan kepada nasabah.

"Saya itu dapat bahan baku dana Rp 1.121 triliun trus kemudian saya jual dalam bentuk kredit hanya laku Rp 938 triliun. Berarti ada selisih Rp 100 triliun yang saya harus nanggung bunganya, biayanya tapi ngga laku-laku saya jual. Itu [analogi] paling gampang," jelasnya.

Untuk itu stimulus-stimulus yang diberikan pemerintah saat ini untuk meningkatkan permintaan kredit dinilai menjadi salah satu pendorong yang optimal guna meningkatkan kembali permintaan kredit.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading