Sempat Galau di Tengah Jalan, IHSG Finish Hijau Terbatas

Market - Putra, CNBC Indonesia
02 March 2021 15:30
Layar pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sempat sekali tercelup di zona merah dua kali, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (2/3/2021), mengikuti tren penguatan di bursa global dan kabar positif pengiriman vaksin dari China.

IHSG ditutup naik 0,33% ke 6.359,20. Data perdagangan mencatat, sebanyak 225 saham menguat, 253 tertekan dan 162 lainnya flat. Nilai transaksi bursa masih terbatas yakni sebesar Rp 14 triliun. Sementara itu asing melakukan beli bersih tipis Rp 27,65 miliar.

Saham yang dikoleksi asing adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang diborong Rp 84 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang dikoleksi Rp 81 miliar.


Sementara itu penjualan dilakukan di PT Gudang Garam Tbk (GGRM) sebesar Rp 65 miliar dan PT Merdeka Copper Tbk (MDKA) sebesar Rp 46 miliar.

Dari pasar global, Turunnya yield Treasury langsung membawa bursa saham AS (Wall Street) meroket pada perdagangan Senin waktu setempat.

Indeks Dow Jones menguat 1,95%, S&P 500 meroket 2,38%, dan Nasdaq memimpin setelah melesat lebih dari 3%. Sepanjang pekan lalu ketiga indeks ini terpuruk akibat naiknyayieldTreasury.

Yieldyang tinggi akan memikat investor mengalihkan dananya dari bursa saham ke pasar obligasi.

"Yieldsangat menentukan. Di kisaran 1,5%, yield obligasi bisa kompetitif dibandingkan dividendyielddi pasar saham. Ingat, tidak ada risiko di obligasi, uang Anda kembali 100%," kata Peter Tuz, Presiden Chase Investment Counsel yang berbasis di Virginia (AS), seperti dikutip dariReuters.

Ketua The Fed, Jerome Powell, pada rapat kebijakan moneter 16 - 17 Maret waktu setempat diperkirakan akan mengaktifkan kembali Operation Twist yang pernah dilakukan 10 tahun yang lalu, saat terjadi krisis utang di Eropa.

Operation Twist dilakukan dengan menjual obligasi AS tenor pendek dan membeli tenor panjang, sehingga yield obligasi tenor pendek akan naik dan tenor panjang menurun. Hal tersebut dapat membuat kurva yield melandai.

The Fed sudah 2 kali menjalankan Operation Twist, pada 2011 dan 1961.CNBC Internationalmelaporkan pelaku pasar yang mengetahui perihal operasi tersebut mengatakan jika The Fed sudah menghubungi dealer-dealer utama untuk menjalankan operasi tersebut.

Mark Cabana, ahli strategi suku bunga di Bank of America Global Research, mengatakan Operation Twist merupakan kebijakan yang sempurna untuk meredam gejolak di pasar obligasi.

"Operation Twist, dengan menjual obligasi tenor rendah dan membeli tenor panjang secara simultan adalah kebijakan yang sempurna menurut pandangan kami," kata Cabana, sebagaimana dilansir CNBC International, Senin (1/3/2021).

Cabana menyebut Operation Twist "membunuh tiga burung dengan satu batu". Yang pertama menaikkan yield jangka pendek, kemudian stabilitas yield jangka panjang, serta tidak akan menaikkanbalance sheet.

Dari dalam negeri, kabar positif muncul dengan datangnya dosis baru vaksin Sinovac. Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) menyampaikan hari ini vaksin buatan perusahaan farmasi asal China, Sinovac Biotech Ltd akan datang.

Menurut informasi yang disampaikan Tim Komunikasi Publik, vaksin virus Corona tersebut dijadwalkan akan tiba di Banda Soekarno Hatta, Tangerang Banten siang ini pukul 12.16 WIB.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading