Duh! IHSG Menguat, Saham Ini Malah Boncos Pekan Ini

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
27 February 2021 18:41
Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini masih bergerak menguat, walaupun sentimen dari kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) sempat menghantui pasar global sepanjang pekan ini.

Memang pada perdagangan Jumat (26/2/2021) akhir pekan ini, IHSG berakhir kurang menggembirakan, di mana indeks bursa acuan nasional tersebut melemah 0,76% ke level 6.241,8. Namun sepanjang pekan ini, IHSG masih mampu mencatatkan penguatan sebesar 0,16%.

Selama sepekan, nilai transaksi IHSG mencapai Rp 81,2 triliun dan investor juga masih memborong saham-saham di pasar reguler sebanyak Rp 1,02 triliun sepanjang pekan ini.


Di kala IHSG menguat dan diborong oleh asing pada pekan ini, namun ada beberapa saham yang nasibnya kurang beruntung sepanjang pekan ini. Adapun saham-saham yang menjadi top losers sepanjang pekan ini adalah:

Di posisi pertama dari saham-saham top losers, terdapat saham PT MNC Land Tbk (KPIG) yang ambles hingga 17,34% ke level Rp 143/unit pada pekan ini.

Nilai transaksi saham KPIG sudah mencapai Rp 120 miliar pada pekan ini. Namun, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 10,2 miliar sepanjang pekan ini.

Berikutnya di posisi kedua diduduki oleh saham emiten energi batu bara yang baru-baru ini melakukan ekspansi ke sektor pertambangan nikel, yakni PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang merosot hingga 10,49% sepanjang pekan ini.

Adapun nilai transaksi saham HRUM mencapai Rp 990 miliar pada pekan ini. Seperti saham KPIG, investor asing juga melepas saham HRUM di pasar reguler sebesar Rp 92.79 miliar sepanjang pekan ini.

Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS diikuti oleh aksi jual saham teknologi di pasar saham AS maupun Asia membuat pergerakan IHSG sedikit tergoyahkan dan hanya melemah dua hari saja, yakni pada Rabu (24/2/2021) dan Jumat akhir pekan ini.

Berdasarkan data dari situs World Government Bond, yield obligasi pemerintah AS acuan tenor 10 tahun per akhir pekan ini, Jumat (26/2/2021) kembali turun 12,3 basis poin (bp) ke level 1,407%.

Bahkan, pada pekan ini, yield Treasury tersebut sempat menyentuh level tertingginya dalam kurun waktu satu tahun terakhir, yakni menembus level 1,6%. Padahal di penghujung tahun 2020, imbal hasilnya masih di bawah 1%.

Sebelum turun kembali pada perdagangan akhir pekan ini, yield Treasury juga sempat turun yang diakibatkan oleh pelaku pasar menerima pernyataan ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell.

Powell mengatakan perekonomian AS masih jauh dari kata pulih dari kemerosotan akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Oleh karena itu, bantuan dari kebijakan moneter longgar masih diperlukan.

"Perekonomian AS masih jauh dari target inflasi dan pasar tenaga kerja kami, dan kemungkinan memerlukan waktu cukup lama untuk mendapatkan kemajuan yang substansial," kata Powell dalam testimoninya di hadapan Komite Perbankan Senat, Kongres AS, sebagaimana dilansir CNBC International, Selasa (24/2/2021).

Namun, penurunan yield sepertinya hanya sementara, karena jika dilihat dari trennya, maka yield Treasury AS masih dalam tren kenaikan dan kemungkinan akan kembali naik jika tidak ada kebijakan tertentu yang dapat menghambat lajunya.

Imbal hasil yang tinggi juga mendorong investor untuk berpindah dari saham ke obligasi. Sebagai perbandingan imbal hasil dividen (dividen yield) indeks S&P 50-yang premi risikonya lebih tinggi dari obligasi-kini berada di level 1,47%.

"Jika melihat yield riil, mereka terlalu rendah jika mempertimbangkan ekspektasi pertumbuhan dan sepertinya yield riil dalam jangka panjang akan terus menguat seiring dengan membaiknya data ekonomi," tutur Charlie Ripley, perencana investasi senior Allianz Investment Management, sebagaimana dikutip CNBC International.

Kenaikan yield itu juga terjadi di tengah ekspektasi bahwa ekonomi AS akan membaik di tengah vaksinasi dan kucuran stimulus fiskal US$ 1,9 triliun. Partai Demokrat sejauh ini berjuang untuk meloloskan stimulus tersebut, yang dibarengi kenaikan upah minimum sebesar US$ 15/pekerja.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading