Sebelum IPO, Traveloka Ekspansi ke Thailand & Vietnam

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
25 February 2021 14:07
Direktur Bisnis Konsumer BNI Anggoro Eko Cahyo (kiri) dan President Traveloka Group Operations Henry Hendrawan (kanan) menandatangani Perjanjian Kerja Sama Kemitraan BNI Kredit Konsumer melalui Traveloka PayLater di Jakarta, Rabu (15 Januari 2020). BNI siap mendukung Traveloka yang akan menggarap potensi penyaluran pembiayaan hingga Rp 6 triliun di tahun 2020 melalui fitur Traveloka Paylater. Dok BNI

Jakarta, CNBC Indonesia - Startup perjalanan  online terbesar di Asia Tenggara, Traveloka, berencana meluncurkan layanan keuangan di Thailand dan Vietnam. Ini dilakukan seiring rencana pencatatan saham awal (IPO) perusahaan di Amerika Serikat (AS) melalui perusahaan khusus (SPAC), menurut sang presiden dilansir Reuters, Kamis (25/2/2021).

Traveloka, merupakan startup perjalanan wisata yang investor utamanya Expedia dan perusahaan e-commerce JD.com, sedang bangkit setelah tekena dampak pandemi COVID-19 membuat permintaan merosot tajam.

Presiden Traveloka Caesar Indra mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Reuters, bisnis Traveloka di Vietnam telah melampaui level pra-COVID-19, lalu hampir kembali ke level normal di Thailand, dan mencapai setengah dari level pra-COVID di tanah air.


"Yang terburuk telah terjadi dan sekarang kami mempersiapkan diri dengan baik untuk 2021. Perjalanan domestik mendorong pemulihan," katanya melansir Reuters, Kamis (25/2/2021).

"Rencananya adalah berinvestasi di fintech secara besar-besaran untuk memungkinkan lebih banyak konsumen melakukan perjalanan di kawasan tersebut," kata Indra, seraya menambahkan bahwa bisnis travel telah kembali menguntungkan pada akhir tahun lalu.

Traveloka, yang mengklaim memiliki 40 juta pengguna aktif bulanan, sedang mengembangkan layanan "buy now, pay later" alias "beli sekarang, bayar nanti" untuk pasar Thailand dan Vietnam.

"Kami baru-baru ini membentuk perusahaan patungan dengan salah satu bank terbesar di Thailand untuk berkolaborasi di bidang fintech," kata Indra.

Traveloka, yang memiliki pesaing lokal yang lebih kecil, juga sedang berbicara dengan calon mitra di Vietnam, tetapi Indra menolak menyebutkan nama pihaknya.

Layanan pay later tersebut diluncurkan setelah perusahaan menyadari bahwa pelanggan cenderung akan menunggu hingga hari gajian mereka untuk memesan tiket perjalanan. Layanan ini telah memfasilitasi lebih dari 6 juta pinjaman, kata Indra.

Tahun lalu, Traveloka meluncurkan kartu kredit "Paylater" dengan beberapa pemberi pinjaman Indonesia. Ia juga menawarkan layanan asuransi dan manajemen kekayaan.

Indra mengatakan potensi bisnis sangat besar di Indonesia, yang merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, di mana hanya 6% dari 270 juta penduduk yang memiliki kartu kredit.

Ketika ditanya apakah Traveloka dapat membeli bank di Indonesia, seperti perusahaan rintisan (startup) lainnya, untuk memperluas layanan keuangannya, Indra mengatakan, "semua opsi ada di atas meja."

Traveloka, yang juga didukung oleh sovereign wealth fund (SWF) GIC Singapura dan firma ventura Indonesia East Ventures, telah mengembangkan layanan gaya hidup lokalnya di Indonesia.

Layanan tersebut menawarkan voucher restoran dan layanan pesan-antar makanan, serta uji cepat COVID-19 alias rapid test.

Indra mengatakan perusahaan tersebut adalah aplikasi review restoran terbesar di Indonesia.

Traveloka, yang sedang mempersiapkan listing di bursa AS, sedang mengadakan diskusi dengan perusahaan akuisisi bertujuan khusus (special-purpose acquisition companies) atau SPAC, untuk melantai di bursa negeri Paman Sam.

"Pasar AS menjadi lebih menarik karena semakin banyak apresiasi terhadap Asia Tenggara sebagai kawasan yang berkembang, dan dengan listing di AS, kami juga dapat memberikan kesempatan bagi investor AS untuk menjadi bagian dari kisah pertumbuhan Asia Tenggara, "kata Indra.

Banyak SPAC dilaporkan telah mendekati perusahaan rintisan di Asia Tenggara.

Bridgetown Holdings, perusahaan investasi yang didukung oleh taipan Asia Richard Li, Provident Acquisition dan Cova Acquisition adalah pesaing Traveloka, dengan potensi valuasi startup hingga US$ 5 miliar setara Rp 70 triliun (kurs US$ 1 = Rp 14.000), kata sebuah sumber.

Perusahaan-perusahaan tersebut tidak segera menanggapi permintaan komentar yang dibuat di luar jam kerja normal AS.

Indra juga menolak berkomentar mengenai hal tersebut, tetapi dia bilang listing di Indonesia masih tetap menjadi pilihan perusahaan.


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading