Bos The Fed Nyentil Soal Inflasi, Harga Emas Malah Turun

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
25 February 2021 08:15
FILE PHOTO: Gold bullions are displayed at GoldSilver Central's office in Singapore June 19, 2017. Picture taken June 19, 2017.  REUTERS/Edgar Su/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Baru sebentar harga emas mencicipi level US$ 1.800/troy ons. Kini rasanya si logam kuning mau dibanting lagi. Harga emas di pasar spot mulai tampak melandai. 

Pada perdagangan Kamis pagi (25/2/2021), harga bullion turun 0,14% ke US$ 1.801,86/troy ons. Harga emas terus turun. Rekor tertingginya pun selalu lebih rendah dari rekor-rekor sebelumnya. 


Pemicu utama turunnya harga emas belakangan ini adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Dalam waktu singkat imbal hasil naik secara pesat. Per Desember tahun lalu imbal hasil masih di bawah 1%. Kini sudah menyentuh 1,3%. 

Kenaikan imbal hasil ini turut menekan harga emas yang termasuk aset non-produktif mengingat tak memberikan imbal hasil apapun. Emas tidak seperti saham yang memberikan dividen maupun obligasi yang memberikan kupon. 

Keuntungan dari seorang investor dalam memegang emas hanya dari pergerakan harganya saja di pasar. Oleh karena itu minat investor terhadap emas sangat ditentukan oleh biaya peluangnya (opportunity cost). 

Saat imbal hasil surat utang yang tergolong aman seperti US Treasury naik maka opportunity cost memegang emas ikut naik. Di situlah emas menjadi kurang menarik dan dilego investor. Harganya pun turun. 

Secara historis emas juga dijadikan sebagai mata uang. Pasokan emas yang cenderung stabil dibanding mata uang fiat yang bisa dicetak kapanpun dan berapapun jumlah oleh bank sentral membuatnya lebih cocok digunakan sebagai aset untuk lindung nilai dari inflasi. 

The Fed yang masih menerapkan kebijakan 'cetak duit' dikhawatirkan bakal memicu terjadinya inflasi yang tinggi. Likuiditas di AS yang berlimpah dan pembukaan kembali aktivitas ekonomi dikhawatirkan bakal menimbulkan inflasi tinggi. 

Sebagai informasi jumlah uang beredar (M2) di AS per Desember 2020 mencapai US$ 19 triliun. Nilainya naik 25% (yoy) dari tahun sebelumnya yang hanya US$ 15 triliun. Namun bos The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa inflasi masih rendah. 

Rata-rata inflasi di AS dalam 12 bulan terakhir masih di bawah 2% yang merupakan sasaran target bank sentral. Dua hari ini Powell memang dijadwalkan untuk memberikan testimoni di hadapan Komite Perbankan Senat AS. 

Dalam forum tersebut ada beberapa anggota Senat yang menyoroti kebijakan The Fed dalam memompa likuiditas. Salah satunya adalah Warren Davidson yang mempertanyakan kenaikan pasokan uang akan memicu devaluasi dolar AS serta memicu inflasi yang tinggi. 

Powell pun menjawab bahwa seiring dengan berjalannya waktu, korelasi antara jumlah uang beredar (M2) dengan inflasi sangatlah rendah. Ketika M2 tumbuh 25% (yoy), inflasi masih berada di 1,4% (yoy).

Inflasi akan meningkat ketika pasokan uang semakin banyak tapi untuk jangka panjang dan tak akan berubah dalam satu malam. Kurang lebih begitulah yang dikatakan oleh Powell.

Ketakutan inflasi yang tinggi pun mendapat sorotan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah anggota Kongres dari Partai Republik. "Baik itu GameStop, Bitcoin, real estat, komoditas, kami melihat harga aset yang cukup tinggi dan tanda-tanda inflasi," kata Senator Republik Pat Toomey.

Powell pun merespons bahwa untuk saat ini fokus utama adalah mengembalikan ekonomi di jalurnya. Untuk sampai ke sana uluran tangan bank sentral masih diperlukan. Apalagi saat ini kondisi pemulihan ekonomi juga tidak terjadi secara merata.

Kendati laju vaksinasi di AS tembus 1,5 juta orang per hari dan kasus Covid-19 turun, banyak masyarakat yang masih menderita. Ada 10 juta pekerjaan yang hilang saat krisis kesehatan tersebut membuat kebijakan karantina wilayah diterapkan termasuk di AS.

Wajar sebenarnya jika Powell membawa-bawa isu ketenagakerjaan karena The Fed diberi dua mandat utama (dual mandate) yaitu memaksimalkan serapan tenaga kerja dan menjaga stabilitas harga.

Mengingat inflasi masih rendah dan di bawah target bank sentral dan risk appetite investor tetap tinggi, harga emas pun tertekan. Emas harus mengalami perubahan nasib dari yang tadinya primadona sekarang justru ditinggalkan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading