Newsletter

Lagi Banyak Kabar Bagus, IHSG Harusnya Bisa Ngegas Nih

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
25 February 2021 06:12
Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan domestik ditutup tak kompak pada perdagangan kemarin, Rabu (24/2/2021). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, nilai tukar rupiah menguat dan harga Surat Berharga Negara (SBN) cenderung variatif. 

Mayoritas indeks saham kawasan Asia ditutup di zona merah, termasuk IHSG. Namun koreksi yang dialami indeks saham acuan bursa nasional itu tak separah negara lain. IHSG turun 0,35%. Sementara mayoritas indeks Asia Pasifik melemah lebih dari 0,5%. 

Hanya Straits Times (Singapura) dan Sensex (India) yang berhasil selamat dan finish di zona hijau. Masing-masing naik 1,33% dan 0,5%. Penurunan harga saham di kawasan Asia Pasifik merupakan koreksi sehat karena sebelum-sebelumnya harga aset ekuitas Asia naik saat Wall Street terkoreksi.


Di dalam negeri, saat IHSG turun 0,35% ada 198 saham yang menguat, 275 turun dan sisanya 169 stagnan. Kendati turun, investor asing justru belanja. Asing membeli bersih saham-saham perusahaan Indonesia sebesar Rp 245 miliar. 

Berbeda nasib dengan IHSG, nilai tukar rupiah justru mengalami penguatan. Di pasar spot untuk US$ 1 dibanderol Rp 14.080 atau menguat 0,07% dibanding posisi penutupan perdagangan sebelumnya. 

Sementara itu harga SBN cenderung bergerak variatif. Hal ini tercermin dari imbal hasil (yield) nominalnya. Untuk SBN tenor 10 tahun yang menjadi acuan, harganya mengalami apresiasi seiring dengan penurunan yield nominal sebesar 9,3 basis poin (bps).

Apresiasi rupiah dan SBN tenor 10 tahun yang berdenominasi rupiah tak luput dari penurunan yield surat utang AS. Setelah mengalami kenaikan pesat dalam waktu singkat yield pun menurun. 

Pasar merespons pidato bos bank sentral AS (The Fed) Jerome Powell yang memberikan testimoni di depan Komite Perbankan Senat AS. Dalam testimoninya Powell menyebut kondisi ekonomi saat ini masih jauh dari tujuan yang ingin dicapai yaitu maximum employment dan stabilitas harga 2%.

Inflasi juga masih jinak dan rata-ratanya dalam 12 bulan terakhir masih di bawah 2%. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dipicu oleh pasar yang meminta imbal hasil lebih untuk mengkompensasi adanya potensi inflasi yang tinggi. 

Namun setelah disentil oleh Powell, imbal hasil obligasi pemerintah AS pun menurun dan harga saham-saham di Bursa New York mendapat katalis positif. Hanya Nasdaq Composite saja yang terbenam di zona merah. 

Bergairah Lagi, Wall Street Finish di Zona Hijau
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading