Kabar Aksi Korporasi Bikin Asing & Lokal Borong Saham Telkom

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
24 February 2021 10:04
Employees of Indonesia's largest telecommunications services company PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) work at Plasa Telkom building in Jakarta, April 30, 2018. REUTERS/Beawiharta Foto: REUTERS/Beawiharta

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), melanjutkan tren penguatan pada sesi I perdagangan hari ini, Rabu (24/2/2021). Kabar mengenai aksi korporasi perseroan, menjadi katalis positif bagi saham emiten telekomunikasi ini.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham TLKM menguat sebesar 1,73% ke posisi Rp 3.530/unit pada sesi I, Rabu (24/2) pukul 09.51 WIB.

Investor asing ramai-ramai mengoleksi saham TLKM dengan melakukan aksi beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp 88,60 miliar.


Sementara kemarin, Selasa (23/2), TLKM berhasil ditutup di peringkat ketiga top gainers. Saham emiten telekomunikasi pelat merah ini berhasil melesat 9,46% ke Rp 3.470/unit dengan nilai transaksi yang tinggi, sebesar 1,2 triliun.

Menguatnya harga saham TLKM terjadi seiring dengan adanya beberapa rencana strategis TLKM, termasuk akan dilakukannya initial public offering (IPO) dua anak usahanya di bursa.

Sebelumnya, manajemen Telkom dalam acara "Prospek Pasar Modal 2021" yang digelar CNBC Indonesia, Senin (22/2/21), yang digelar CNBC Indonesia membeberkan beberapa rencana strategis yang bisa menjadi pertimbangan investor.

Dari sisi penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO), Direktur Strategic Portfolio Telkom Indonesia Budi Setyawan Wijaya mengatakan perseroan akan membawa dua anak usaha untuk IPO, satu di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan satu di bursa Asia tanpa menyebutkan nama bursa.

"Tahun ini ada 2 [IPO], satu di Indonesia, satu lagi di Asia. Saya ga bisa naming [sebutkan nama] insya Allah tahun ini kejadian [realisasi]. Kalau dilihat kesiapan faktanya sudah beberapa go public," katanya.

Adapun Telkom memang telah merencanakan untuk melepas anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) ke pasar modal. Ditargetkan eksekusinya akan dilakukan pada kuartal terakhir tahun ini, atau paling lambat pada kuartal pertama 2022.

Mitratel yang merupakan anak usaha Telkom yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi memiliki menara telekomunikasi yang tersebar di berbagai wilayah dan melayani semua operator seluler di Indonesia dengan jumlah lebih dari 22.000 menara telekomunikasi.

Setelah IPO, Mitratel berpotensi menjadi perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Indonesia, dengan jumlah menara 34.025. Hasil penggabungan 18.000 menara dimiliki oleh Telkomsel dan 16.025 sisanya milik Mitratel.

Selanjutnya, Telkom Indonesia melalui MDI Ventures akan tetap fokus menyuntikkan modal kepada startup, melihat potensi yang bisa dilakukan dengan startup digital terutama di masa pandemi.

"Kita punya MDI Ventures di mana dia mengelola dana investasi Telkom yang lumayan besar, kita sudah investasi di 50-an perusahaan, berpotensi ke depannya bisa menopang revenue driver Telkom seperti yang disampaikan Pak Pandu Sjahrir [Komisaris BEI]," katanya.

Kemudian, berkaitan jaringan 5G, Budi Setyawan mengatakan untuk mengembangkan jaringan 5G di Indonesia banyak elemen yang harus disiapkan.

"5G tidak hanya lisensi. Kita harus siapkan infrastruktur misalnya fiber optic karena ini komponen penting yang akan menghubungkan mini pool dengan 5G," ujarnya.

"Kita juga siapkan data center di daerah. Jadi, aset properti sentral-sentra di daerah mulai dibangun menjadi regional data center agar lebih dekat ke pasar (market). Use case untuk industri agar terbantu dengan 5G dan efisien. itu hal-hal yang disiapkan untuk menyambut 5G."

Menurut Budi, bisnis 5G ke depan cukup besar."Konsumer pelanggan butuh kecepatan (speed) tinggi sehingga ketika mobile dapat akses tinggi.Ketika di rumah butuh akses cepat. Kalau ada 5G, ada VWA, terus untuk beberapa aplikasi virtual reality hanya bisa disediakan maksimum oleh 5G," terangnya.

Dari sisi enterprise (korporasi), dengan adanya internet of things (IoT), dibutuhkan teknologi mendukung 5G yang tepat. "Secara size, saat ini belum bisa melihat angka. Secara kebutuhan, itu ada. baik di sisi konsumer atau enterprise," jelasnya.

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading