Ini Sejumlah Faktor yang Bikin BNI Kuat Hadapi 2021

Market - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
22 February 2021 14:01
Perkuat Physical Distancing,  Pekerja Indonesia di Singapura Manfaatkan BNI MoRe (dok: BNI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah analis menyatakan bahwa PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memiliki fundamental yang kuat dalam menghadapi 2021. Meskipun 2021 diyakini sebagai tahun pemulihan, namun masih ada sejumlah tantangan ketidakpastian.

Salah satu keyakinan tersebut adalah BNI memiliki mencatat Capital adequacy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal sebesar yang tercatat 16,8% pada akhir 2020.

"CAR BNI ini masih jauh lebih dari cukup," kata Analis RHB Research, Christopher Andre Benas kepada CNBC Indonesia, Senin (22/2/2021).


Menurutnya, perbankan perlu menjaga permodalan sebagai langkah untuk mengantisipasi apabila terjadi hal negatif ke depannya. Selain itu, CAR juga dibutuhkan untuk mendukung ekspansi kredit BNI pada rentang 6% sampai dengan 9% pada 2021

Setali tiga uang, Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, BNI masih memiliki ruang yang cukup dengan CAR tersebut.

"Karena dia minimal CAR-nya 9,95% berdasarkan profil risikonya," ujarnya.

Farash menambahkan dengan pemulihan bisnis bertahap, tahun ini pertumbuhan kredit bisa tumbuh lebih tinggi walaupun masih 1 digit, terutama dengan CAR yang dapat menjadi buffernya.

Dia menilai seharusnya tahun ini posisi BBNI lebih nyaman terutama dengan pencadangan yang sudah ditambah pada 2020. Adapun rasio CKPN terhadap aset produktif bermasalahnya sudah 2 kali dari sebelumnya 1,3 kali pada 2019.

Bila kualitas kredit BNI membaik pada 2021, menurut Farash, maka pencadangan yang dilakukan sebelumnya bisa dibukukan sebagai laba pada 2021. Hal ini menjadi salah satu faktor yang bisa mendorong peningkatan laba BNI, selain peningkatan pendapatan bunga dan fee based income (FBI).

Faktor lain yang membuat BNI cukup kuat menghadapi ketidakpastian, ada likuiditas yang cukup longgar. Pada akhir 2020, BNI mencatatkan Loan to deposit ratio (LDR) sebesar 87,3% jauh lebih longgar dibandingkan 2019 yang mencapai 91,5% dan 2018 yang mencapai 88,8%.

"Dengan by design likuiditas berlimpah LDR di bawah 87%, kalau misal ada pertumbuhan kredit bisa support kreditnya. Maka 2021, akan jadi turn around story untuk BBNI. Kemudian 2020 penambahan provisi dilakukan banyak, beberapa kuartal lagi bukunya akan lebih bersih," kata Christoper Andre.

Sebagai informasi, sepanjang 2020 BNI mencatat mencatatkan laba bersih konsolidasi sepanjang tahun lalu mencapai Rp 3,3 triliun. "Kami di BNI sepanjang tahun lalu memacu diri agar 2021 menjadi lebih baik dengan membuat lompatan bisnis. Langkah yang kami lakukan, perseroan dapat hasil menggembirakan, pemulihan lebih cepat terwujud," kata Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar.

Sementara itu, di tengah kondisi perekonomian yang menantang, perseroan dapat merealisasikan pendapatan non bunga atau fee based income Rp 11,9 triliun atau tumbuh 4,5% dari periode yang sama tahun 2019, serta dapat melakukan efisiensi biaya operasional yang hanya tumbuh 2,2% YoY.

"Kedua hal ini menjadi sasaran utama perusahaan selama masa pandemi untuk meredam tekanan pendapatan bunga yang turun 4,0% YoY dalam rangka pemberian stimulus restrukturisasi kredit kepada para debitur yang terdampak oleh pandemi, serta berkontribusi pada pencapaian pertumbuhan laba sebelum provisi dan pajak (PPOP) sebesar Rp 27,8 triliun pada akhir 2020," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading