Bank Kecil Disulap Jadi Bank Digital, Siapa saja Pemodalnya?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
16 February 2021 16:43
[DALAM] Nasib Digital Banking di Masa Depan

Jakarta, CNBC Indonesia - Perlombaan bank digital kian semarak di Tanah Air. Pelaku pasar pun menyambutnya dengan respons positif. Mulai dari korporasi, perbankan hingga perusahaan rintisan tak mau ketinggalan untuk berpartisipasi dalam kontestasi bisnis yang sedang 'hot' ini. 

Didukung degan regulasi otoritas pengawas perbankan (OJK) yang menuntut bank-bank bermodal cekak untuk meningkatkan kapasitas permodalan, aksi konsolidasi bank lewat akuisisi pun banyak terjadi. 

Bank dengan modal inti di bawah Rp 5 triliun yang masuk golongan BUKU I dan II menjadi incaran. Setelah diakuisisi, bank-bank ini rencananya akan dipermak menjadi bank digital. Sentimen dan rumor yang beredar membuat harga saham bank-bank tersebut melesat signifikan dan menjadi saham multibagger.


Adalah Bank Jago (ARTO) yang pertama kali menjadi pusat perhatian di kalangan pelaku pasar dan pebankir. Tahun 2019, bank BUKU I yang modalnya di bawah Rp 1 triliun tersebut masih bernama PT Bank Artos Tbk. 

Di penghujung tahun 2019, 51% saham ARTO diakuisisi oleh PT Metamorfosis & Wealth Track Technology. Nilai akuisisinya mencapai hampir Rp 240 miliar atau 2 kali nilai bukunya saat itu. 

Setelah resmi diakuisisi dan sempat menerbitkan saham baru melalaui right issue, saham ARTO melesat gila-gilaan. Hanya dalam waktu satu tahun saja, nilai kapitalisasi pasar ARTO melejit ribuan persen. Apalagi setelah Gojek ikut masuk mengakuisisi 22% ARTO lewat sayap bisnis keuangannya yaitu GoPay.

Lantas siapa saja orang-orang dibalik Metamorfosis dan Wealth Track Technology? Mereka adalah Jerry Ng (Metamorfosis) dan Patrick Walujo (Wealth Track Tehcnology). Jerry Ng adalah pebankir senior yang namanya sudah malang melintang di dunia perbankan Tanah Air. 

Sebelum mengakuisisi ARTO, Jerry Ng adalah Direktur Utama PT Bank BTPN Tbk (BTPN) sejak 2008-2019. Dalam periode tersebut, Jerry Ng juga turut membesarkan unit usaha digital banking bernama Jenius yang diluncurkan tahun 2016. 

Sementara itu Patrick Walujo merupakan pendiri firma investasi swasta atau private equity yang dikenal dengan nama Northstar Group. Northstar merupakan perusahaan investasi yang menghimpun dana dari investor dan mengelolanya untuk dibelikan aset seperti perusahaan. 

Beberapa perusahaan investee Northstar adalah perusahaan rintisan Gojek, perusahaan tambang PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), hingga PT Bank BTPN Tbk (BTPN). Patrick Walujo juga merupakan menantu dari pengusaha kondang yaitu TP Rachmat.

Duo Jerry Ng dan Patrick Walujo adalah dua orang yang berada di balik bank digital ARTO. 

Selain ARTO ada bank BUKU I lain yang juga bermodal inti kurang dari Rp 1 triliun. Namun kenaikan harga sahamnya mencapai ratusan persen. Adalah saham PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) yang melesat 618% dalam satu tahun terakhir. 

Harga saham BBHI melonjak setelah pengusaha kondang yang juga masuk jajaran Top-10 Crazy Rich Indonesia yaitu Chairul Tanjung (CT) mengakuisisi 73,71% saham bank BUKU I tersebut dari PT Hakim Putra Perkasa. 

Dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar akhir Januari lalu CT mendapat restu dari pemagang saham BBHI untuk mancaplok bank yang modalnya masih Rp 350-an miliar tersebut. 

CT mengakuisisi BBHI melalui PT Mega Corpora. Rencana akuisisi ini pun sama. BBHI nantinya akan dipermak menjadi bank digital. Apalagi CT lewat CT Corp juga memiliki ekosistem sendiri mulai dari pusat perbelanjaan, media hingga taman hiburan. 

Kemudian bank digital lain yang harganya meroket tajam adalah PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk. Bank dengan ticker BANK tersebut baru saja melantai di bursa saham Tanah Air pada 1 Februari lalu. 

Baru genap dua pekan, nilai kapitalisasi bank syariah yang juga mengusung konsep bank digital ini melonjak 712%. Harga penawaran perdananya hanya Rp 103/lembar. Belum juga selesai perdagangan hari ini, saham BANK kembali menyentuh level auto reject atas (ARA). 

Pemegang saham pengendali BANK adalah PTNTI Global Indonesia yang memiliki 60,55% saham BANK. Dalam prospektus IPO disebutkan bahwa di balik nama NTI Global, ada pemegang saham pengendali terakhir (PSPT) alias beneficial ownership yakni pengusaha bernama John Dharma J Kusuma.

Nama John Dharma J Kusuma terkait dengan salah satu raksasa rokok Tanah Air asal Kudus, Jawa Tengah.

Dari beberapa literatur artikel dan situs resmi terkait, John adalah salah satu petinggi dari PT Nojorono Tobacco International (Nojorono), pabrik rokok dengan merek Minak Djinggo dan Class Mild. Saat ini perusahaan menduduki posisi kelima dalam industri rokok terbesar di Indonesia.

Setelah BANK, ada juga saham bank lain yang berpotensi menyusul menjadi bagger. Saham PT Bank Bumi Artha Tbk (BNBA) berhasil menyentuh level ARA lagi hari ini setelah dua hari beruntun tembus rekor. 

Kenaikan gila-gilaan harga saham BNBA tak terlepas dari beredarnya rumor bahwa BNBA masuk ke radar induk usaha Shopee yakni Sea Group untuk dijadikan sebagai bank digital yang melayani Shopee. 

Prospek bank digital di Indonesia memang cerah karena masih banyak masyarakat di Tanah Air yang belum tersentuh layanan keuangan formal tetapi mereka memiliki akses internet dan ponsel pintar. Hal inilah yang membuat bank digital digemari baik oleh pelaku usaha maupun pelaku pasar. 


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading