Harga Emas Antam Hari ini Tak akan Bikin Emak-emak Happy!

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
13 February 2021 11:05
Petugas menunjukkan koin emas Dirham di Gerai Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Bank Indonesia (BI) mengajak masyarakat dan berbagai pihak untuk menjaga kedaulatan Rupiah sebagai mata uang NKRI.    (CNBC Indonesia/ Tri Susislo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas di pasar primer nasional pada hari ini, Sabtu (13/2/2021) melemah mengikuti tren di pasar dunia yang juga sedang tertekan akibat penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS).

Mengacu pada harga PT Aneka Tambang Tbk, emas satuan 1 gram hari ini dibanderol Rp 940.000 per batang, alias melemah 0,53% atau Rp 5 .000/gram. Sementara itu, emas 100 gram di level Rp 88.212.000/batang atau Rp 882.120/gram, melemah dari sebelumnya Rp 887.120/gram.

Harga emas Antam satuan 1 gram pada Jumat pekan lalu berada di level Rp 940.000/batang, sehingga sepanjang pekan ini harga emas yang dipatok BUMN tambang tersebut flat, alias stagnan.


Jika dihitung secara tahun berjalan, harga emas hari ini terhitung anjlok 2,59% dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu pada 30 Desember 2020 yang berada di level Rp 965.000 per gram.

Harga emas di pasar spot dunia pada Jumat kemarin turun 0,1% atau US$ 1,9 (Rp 26.548) per troy ons ke US$ 1.823,46 (dari posisi sehari sebelumnya pada US$ 1.825,36 per troy ons).

Meski dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini melemah terhadap rupiah, yakni sebesar 0,36% menjadi Rp 13.970 per dolar AS, tetapi itu belum cukup menarik permintaan di dalam negeri sebegitu masif hingga mendongkrak harga di dalam negeri.

Pasalnya, indeks dolar AS sepekan ini menguat ke 90,7 yang mengindikasikan bahwa investor global cenderung memburu dolar AS ketimbang mata uang negara mitra dagang utamanya karena khawatir akan risiko perekonomian di negara selain AS tersebut.

Indeks dolar merupakan acuan pergerakan mata uang dolar AS terhadap enam mata mitra dagang utamanya. Ketika dolar AS menguat, emas-yang harga belinya di pasar global dipatok dengan dolar AS--menjadi lebih mahal dan kurang menarik.

Penguatan dolar AS terjadi setelah Inggris melaporkan kontraksi ekonomi pada 2020 sebesar 9,9% (terbesar dalam sejarah). Ini menjadi pemicu kekhawatiran pemodal global memegang aset negara tersebut dan memilih dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading