Saham Konstruksi Benar-benar Kebanjiran Sentimen Positif 2021

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
10 February 2021 10:38
Progres Konstruksi Jalan Tol Layang Dalam Kota Jakarta Ruas Kelapa Gading-Pulo Gebang Capai 71%. (Dok. Kementerian PUPR)

Jakarta, CNBC Indonesia - Terbentuknya Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Lembaga Pembiayaan Indonesia (LPI) menjadi sentimen positif terhadap emiten-emiten infrastruktur yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tak cuma kehadiran SWF yang jadi sentimen positif bagi emiten konstruksi, tapi juga kenaikan anggaran pemerintah untuk pembangunan infrastruktur.

Equity Analyst BRI Danareksa Sekuritas Maria Renata mengatakan selain SWF, para investor saat ini menantikan terjadinya pemulihan perekonomian setelah tahun lalu terkena imbas berat dari adanya pandemi Covid-19. Salah satu driver dari pertumbuhan ekonomi ini adalah adanya anggaran belanja pemerintah yang cukup besar, salah satunya untuk anggaran infrastruktur.

"Jadi kalau dilihat infrastructure budget tahun ini itu kenaikannya cukup besar. Jadi kita dialokasikan Rp 418 triliun masuk anggaran ketiga terbesar setelah anggaran pendidikan dan sosial," kata Maria dalam program Investime, Selasa (9/2/2021).


Tingginya dana infrastruktur ini memberikan harapan pada ketersediaan proyek-proyek infrastruktur yang akan digarap oleh perusahaan-perusahaan karya.

"Ini akan tercermin ke growth-nya di laporan keuangan. Jadi mereka mendapatkan pekerjaan, masuk ke revenue mereka, itu kan menciptakan growth untuk perusahaan karya," terangnya.

Sentimen lainnya adalah program vaksinasi yang telah mulai dilakukan sejak bulan lalu. Sejalan dengan adanya harapan pertumbuhan ekonomi maka keduanya akan mendorong pertumbuhan dari perusahaan swasta.

Adapun SWF adalah mandat dari UU Cipta Kerja. Dengan adanya SWF yang diberi nama Indonesia Investment Authority (INA), RI akan punya kendaraan investasi yang besar. Tak hanya itu, ambisi untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur pun akan menjadi lebih mulus.

Pemerintah akan menyuntikkan modal awal Rp 75 triliun dengan dana Rp 30 triliun berasal dari kas, aset negara, saham BUMN, dan piutang negara. Pada tahap pertama, SWF diharapkan bisa menghimpun dana hingga Rp 225 triliun.

Sejauh ini UEA, IDFC (International Development Finance Corporation) dan Softbank telah berkomitmen untuk memberikan US$ 52 miliar.

SWF diprediksi akan menguntungkan saham konstruksi karena akan menjadi sumber pembiayaan baru bagi emiten kontraktor BUMN yang saat ini memiliki utang (leverage) yang tinggi.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading