Rebound! Saham BUMI Bangkit & Sempat Terbang 13%

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
02 February 2021 13:17
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia-Harga saham emiten produsen batu bara terbesar di Indonesia PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melesat 13,4% ke Rp 76, sebelum ditutup menguat 1,49% atau berada di level Rp 68/saham pada Sesi I Perdagangan, Selasa (02/02/2021).

Lonjakan harga ini terjadi setelah saham BUMI terkoreksi selama 2 pekan terakhir. Sebelumnya pada 18 Januari, saham BUMI semoat melesat ke Rp 180.


Berdasarkan RTI saham BUMI hingga sesi I diperdagangkan di level Rp 63 sampai Rp 76/saham. Sebanyak 4,41 miliar saham diperdagangkan dengan nilai Rp 302,45 miliar.

Investor domestik masih mendominasi aksi jual beli dari saham emiten batu bara ini. Tercatat aksi jual investor domestik 38,90% dengan 3,4 miliar saham senilai Rp 235,6 miliar. Sementara aksi beli investor domestik mendominasi 49,49% dengan 4,4 miliar saham senilai Rp 299,7 miliar.

Untuk investor asing, terlihat lebih banyak aksi jual dibandingkan aksi beli. Tercatat aksi beli hanya 0,51% untuk 43,7 juta saham senilai Rp 3,1 miliar. Kemudian aksi jual 11,1% sebanyak 1 miliar saham senilai Rp 67,2 miliar.

Sebelumnya, Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan pergerakan harga saham bumi disebabkan perbaikan sentimen karena kenaikan harga komoditas termasuk batu bara, emas, minyak, dan CPO. Selain itu prospek vaksin sejak awal pandemi Covid-19 pun menjadi sentimen positif bagi perekonomian termasuk sektor batu bara.

"Strategi jangka menengah yang kuat, termasuk pasokan batu bara untuk proyek gasifikasi. Kemudian bagaimana perusahaan tetap menjaga volume dan kewajiban hutang yang berkelanjutan meski dalam kondisi pandemi yang menantang," kata Dileep belum lama ini.

Sepanjang 2020, emiten batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memproduksi 83-85 juta ton batu bara, atau hampir sama dengan produksi 2019. Sementara untuk tahun ini, BUMI menargetkan produksi batu bara mencapai 85-90 juta ton atau naik sekitar 5,8% dibandingkan 2020.

"Masih belum menerima data pastinya, tetapi saya rasa produksi sepanjang 2020 mencapai sekitar 83-85 juta ton. Sementara tahun ini kami mengupayakan bisa mencapai produksi 85-90 juta ton," katanya.

Selain itu pangsa pasar BUMI juga masih terjaga dengan baik, dengan pemegang saham multinasional yang kuat dan juga dari jajaran manajemen. Anak usaha BUMI juga memiliki prospek yang menarik, misalnya untuk Arutmin yang telah mendapatkan IUPK, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang kuat di proyek non batu bara, serta PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

"BUMI adalah perusahaan yang sahamnya sangat undervalued dibandingkan dengan pemain sektor lainnya. Investor domestik dan asing melihat pembelian yang menarik dengan prospek jangka menengah yang tak tertandingi," kata Dileep.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading