Analisis

Ada Isu Wall Street Bubble, Seandainya Crash Apa Kabar IHSG?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
27 January 2021 18:50
Traders work on the floor at the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, U.S., November 12, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau yang disebut Wall Street menunjukkan kinerja impresif saat terjadi pandemi virus corona (Covid-19) yang mengguncang dunia. Perekonomian AS bahkan mengalami resesi untuk pertama kalinya dalam lebih dari 1 dekade terakhir.

Guna meredam penyebaran virus tersebut, AS sebelumnya menerapkan kebijakan social distancing hingga karantina (lockdown). Dampaknya bisa ditebak, roda bisnis melambat bahkan nyaris mati suri, hingga akhirnya mengalami resesi.

Bahkan, produk domestik bruto (PDB) di kuartal II-2020 dilaporkan mengalami kontraksi 31,4% secara quarterly annualized atau kuartalan yang disetahunkan (dikali 4). Kontraksi tersebut menjadi yang paling parah sepanjang sejarah AS.


Perekonomian AS memang bangkit di kuartal III-2020, melesat 33,4%, tetapi tingginya PDB tersebut lebih karena low base effect dari kuartal sebelumnya. AS hingga saat ini masih harus menghadapi serangan Covid-19, meski sudah memulai vaksinasi massal.

Data dari Worldometers menunjukkan pada Selasa (26/1/2021) terjadi penambahan kasus baru sebanyak 148.265, sehingga total kasus lebih dari 26 juta orang, dengan 435.452 orang meninggal dunia, dan 15.767.413 sembuh.

Di tengah pandemi tersebut, Wall Street justru berkali-kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Wall Street yang dimaksud adalah dua bursa utama AS, New York Stock Exchange (NYSE) dan Bursa Nasdaq.

Di bulan Maret lalu, Wall Street sempat mengalami aksi jual masif.

Indeks S&P 500 pada 5 Februari lalu menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa 3.393,52. Tetapi setelahnya ambrol hingga menyentuh 2.191,73 pada 9 Maret 2020, atau ambrol lebih dari 35% dan menyentuh level terendah sejak November 2016. Hal yang sama juga terjadi pada 2 indeks utama lainnya, Dow Jones dan Nasdaq.

Sejak saat itu, Wall Street perlahan bangkit berkat stimulus moneter dan fiskal di AS.

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memangkas suku bunga hingga menjadi < 0,25%, dan mengaktifkan kembali program pembelian aset (quantitative easing/QE) senilai US$ 120 miliar per bulan, sementara pemerintah AS saat itu di bawah komando Presiden ke-45 Donald Trump menggelontorkan stimulus fiskal senilai US$ 2 triliun.

Alhasil, Wall Street terus menanjak, ditambah dengan ekspektasi membaiknya perekonomian serta dimulainya vaksinasi, rekor tertinggi sepanjang sejarah berkali-kali dicetak.

Indeks S&P 500 kemarin mencatat rekor di 3.870,9, sebelum berbalik melemah. Indeks Nasdaq mencetak rekor sehari sebelumnya di 13.728,984, sementara Dow Jones pada Kamis (21/1/2021) di 31.272,22.

Sepanjang tahun lalu, S&P 500 melesat 16,26%, Nasdaq "terbang" 43,64%, dan Dow Jones naik 7,25%. Sementara dalam 10 tahun terakhir, indeks S&P 500 melesat nyaris 200%, kemudian Nasdaq meroket 385%, dan Dow Jones menguat 164%.

Halaman Selanjutnya >>> Wall Street Bubble, Capai Puncak di Kuartal I-2020?

Wall Street Bubble, Capai Puncak di Kuartal I-2020?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading