BEEF Mau Rights Issue Pasca Rugi Bersih Hampir Rp 100 M

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
26 January 2021 14:06
Bisnis Perjalanan Wisata Butuh Stimulus Ini Untuk Kembali Bangkit

Jakarta, CNBC Indonesia- Produsen daging olahan PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) mendapat restu dari pemegang saham untuk menggelar penawaran umum terbatas dengan HMETD atau rights issue. Izin tersebut diberikan pada RUPSLB yang digelar pada Kamis (21/1/2021) lalu.

Aksi korporasi ini dilakukan ketika emiten ini sedang mencatatkan kerugian yang besar akibat pandemi Covid-19. BEEF mencatatkan kerugian Rp 99,91 miliar pada periode Januari-September 2020.

"Menyetujui rencana Perseroan untuk melaksanakan penambahan modal dengan menerbitkan HMETD sebanyak-banyaknya 1.88 miliar lembar saham," tulis risalah hasil RUPSLB seperti dikutip CNBC Indonesia, Selasa (26/1/2021).


Sebagai informasi BEFF mencatatkan kerugian Rp 99,91 miliar pada kuartal III-2020, padahal pada September 2019 masih membukukan laba Rp 46,28 miliar. Kerugian selama 9 bulan ini menghapus laba perusahaan lebih dari 2 tahun berturut-turut.

Berdasarkan laporan keuangan hingga September 2020, emiten penjual daging ini mencatatkan penurunan penjualan 1,7% menjadi Rp 887,64 miliar, dari September 2019 mencapai Rp 903,25 miliar.

Dengan penurunan penjualan, BEEF malahan mencatatkan kenaikan beban penjualan hingga kuartal III-2020 sebesar 24,5% menjadi Rp 932 miliar, dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp 748,96 miliar.

Perusahaan mencatat penurunan penjualan terbesar terjadi pada daging jeroan dan produk sapi lokal menjadi Rp 47,88 miliar dari periode yang sama 2019 senilai Rp 174,37 miliar atau turun 72,5%. Penjualan untuk produk lanjutan pun turun dari Rp 201,37 miliar pada September 2019, menjadi Rp 140,42 pada September 2020 turun 30,26%.

Kenaikan penjualan justru terjadi pada daging jeroan dan produk sapi impor menjadi Rp 287,37 miliar dari September 2019 senilai Rp 242,02 miliar naik Rp 18,7%.

BEEF juga mencatatkan peningkatan pembelian daging impor dari Rp 250,33 miliar menjadi Rp 339,39 miliar pada 2020 atau naik 35,5%. Sementara pembelian daging lokal turun drastis dari Rp 88,38 miliar menjadi Rp 783,9 juta. Perusahaan pun harus menanggung rugi selisih kurs senilai Rp 5,94 miliar, dimana pada September 2019 tidak tercatat pada laporan keuangan.

Selain penurunan penjualan dan laba, perusahaan juga mencatatkan penurunan aset pada September 2020 sebesar 5,65% menjadi Rp 835,58 miliar, dibandingkan periode yang sama 2019 senilai Rp 885,63 miliar. Jumlah ekuitas BEEF pun mengalami penurunan menjadi Rp 305,77 miliar dari September 2019 senilai Rp 392,37 miliar.

Saat ini BEEF menjadi salah satu yang merasakan dampak akibat perubahan harga patokan daging sapi, dan harus melakukan berbagai strategi dengan meningkatkan bisnis makanan olahan. Apalagi naiknya harga sapi membuat harga input sapi hidup semakin mahal sementara harga output daging tidak dapat dinaikan terlalu tinggi seiring dengan melemahnya daya beli.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Daging Sapi Mahal,Daging Kerbau India Dilirik Industri Olahan


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading