Masih Mau Bukti Kalau RI Raja Nikel Dunia, Cek Data Ini!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
21 January 2021 16:30
A worker poses with a handful of nickel ore at the nickel mining factory of PT Vale Tbk, near Sorowako, Indonesia's Sulawesi island, January 8, 2014. REUTERS/Yusuf Ahmad

Jakarta, CNBC Indonesia - Jika di tahun 2000-an batu bara adalah komoditas tambang yang menjadi 'primadona' bagi Indonesia. Kendati pesona batu bara belum redup di Tanah Air, tetapi status 'primadona' telah diambil alih oleh komoditas tambang lainnya yaitu nikel. 

Nikel merupakan salah satu jenis logam dasar yang digadang-gadang jadi komoditas masa depan. Nikel merupakan salah satu logam hasil tambang yang digunakan untuk berbagai keperluan.

Di pasar dikenal ada dua jenis nikel yaitu nikel kelas I dan kelas II. Nikel kelas II banyak digunakan untuk pembuatan stainless steel, sementara kelas I digunakan untuk produk lain seperti komponen baterai mobil listrik.


Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton. Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.

Area Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara punya potensi yang terbesar di Indonesia sampai dengan saat ini. Indonesia juga menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dengan menyumbang 27% dari total produksi global.

Kendati memiliki banyak kegunaan terutama untuk industri masa depan (mobil listrik), selama ini Indonesia masih mengekspor nikel dalam bentuk mentah (bijih) yang harganya murah.

Rencana awal pemerintah akan menghentikan ekspor bijih nikel di tahun 2022. Namun pada akhir Agustus 2019, pemerintah resmi melakukan moratorium ekspor bijih nikel yang efektif per 1 Januari 2020, atau dua tahun lebih cepat dari target. 

Saat awal pemerintah mengumumkan penghentian ekspor pada Juli 2019 harga nikel di London Metal Exchange (LME) mulai bergeliat. Kemudian saat rumor penghentian ekspor akan dimajukan jadi tahun 2020 pada pertengahan Agustus menyeruak, harga nikel semakin liar.

Hanya dalam kurun waktu dua bulan saja harga nikel di LME naik dari US$ 12.000/ton menjadi US$ 18.000/ton, atau naik 50%. Namun akibat pandemi Covid-19 harga nikel langsung longsor ke bawah US$ 12.000/ton pada April tahun 2020.

Kebijakan penghentian untuk menghentikan ekspor bijih nikel bukan tanpa pro-kontra. Uni Eropa (UE) yang bergantung pada pasokan nikel dari RI langsung membawa masalah ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). 

Sebagai informasi, Indonesia mengekspor 98% nikelnya ke China dan sisanya ke UE. Blok kerja sama ekonomi di Benua Biru tersebut merasa dirugikan dengan kebijakan pemerintah RI.

Baru-baru ini Komisi UE meminta WTO untuk membentuk panel yang mengurusi perselisihan dagang antara kedua belah pihak. Berbeda dengan UE yang masuk ke jalur hukum lewat WTO, China justru memilih jalan lain dengan berinvestasi ke Indonesia. 

Demam Mobil Listrik Bikin Harga Nikel & Sahamnya Beterbangan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading