Foto: Layanan BPJS Ketenagakerjaan (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2020 menjadi periode yang sendu bagi pasar modal, pun secara umum bagi perekonomian nasional dan global akibat pandemi Covid-19. Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi -5.1%, ditutup di level 5.979, sementara penutupan 2019 IHSG berada di level 6.299.
BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) pun mengungkapkan sejumlah strategi penempatan portofolio terutama investasi saham di tengah kejatuhan pasar saham tersebut.
Sepanjang tahun lalu, BP Jamsostek mencatatkan hasil investasi sebesar Rp 32,30 triliun, dengan imbal hasil investasi alias yield on investment (YOI) yang didapat sebesar 7,38%.
Sementara itu, dari tahun 2016 hingga 2020, dana kelolaan BP Jamsostek tumbuh mencapai 2 kali lipat dengan CAGR (rata-rata pertumbuhan tahunan) sebesar 18,74%, hingga mencapai Rp 486,38 triliun.
Padahal sejak tahun 1977 hingga 2015, dana kelolaan BP Jamsostek berada pada angka Rp 206,58 triliun. Dana kelolaan dan hasil investasi di 2020 tumbuh masing masing sebesar 12,59% dan 10,85% dibandingkan tahun akhir 2019.
Terkait dengan investasi, Direktur Utama BP Jamsostek Agus Susanto, mengatakan pengelolaan investasi mengacu pada PP No. 99 tahun 2013 dan PP No. 55 tahun 2015, yang mengatur jenis instrumen-instrumen investasi yang diperbolehkan berikut dengan batasan-batasannya.
Selain itu, BP Jamsostek juga berpedoman pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (JOJK) No. 1 tahun 2016 yang juga mengharuskan penempatan pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar minimal 50%.
"Untuk alokasi dana investasi, BP Jamsostek menempatkan sebesar 64% pada surat utang, 17% saham, 10% deposito, 8% reksa dana, dan investasi langsung sebesar 1%", tuturnya, dalam siaran pers, Senin (18/1/2021).
Selama masa pandemi, katanya, pengelolaan dana investasi mendapatkan tantangan yang cukup berat, mengingat dampak pandemi Covid-19 dirasakan oleh seluruh bidang usaha di dalam negeri. IHSG bahkan sempat terseok ke level 3.000-an pascaditetapkannya Covid-19 sebagai pandemi global.
"Kondisi pandemi termasuk pasar investasi global dan regional tentunya memiliki pengaruh pada hasil investasi yang diraih oleh industri jasa keuangan pada tahun 2020. Tapi kami telah mengalihkan mayoritas portofolio pada instrumen fixed income [pendapatan tetap] hingga mencapai 74% dari total portofolio, sehingga tidak berpengaruh langsung dengan fluktuasi IHSG," ujar Agus.
Untuk menjaga return investasi, mayoritas penempatan atau 98% penempatan dana BP Jamsostek dilakukan pada saham-saham kategori unggulan alias Blue Chip atau saham-saham yang masuk dalam Indeks LQ45.
Meski demikian, penempatan pada saham non LQ45 juga tetap dilakukan dengan menerapkan protokol investasi yang ketat. Jumlah saham non LQ45 tersebut hanya sekitar 2% besarannya dari total portofolio saham BP Jamsostek.
"Untuk saham, BP Jamsostek hanya berinvestasi pada emiten BUMN, emiten dengan saham yang mudah diperjualbelikan, berkapitalisasi besar, memiliki likuiditas yang baik dan memberikan deviden secara periodik."
Sebagai acuan, mengacu data BEI, berikut saham-saham yang masuk daftar Indeks LQ45 (45 saham likuid dan berfundamental baik), berdasarkan evaluasi minor periode November 2020-Januari 2021.
No.
Kode
Nama Saham Anggota LQ45
1
ACES
Ace Hardware Indonesia Tbk.
2
ADRO
Adaro Energy Tbk.
3
AKRA
AKR Corporindo Tbk.
4
ANTM
Aneka Tambang Tbk.
5
ASII
Astra International Tbk.
6
BBCA
Bank Central Asia Tbk.
7
BBNI
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
8
BBRI
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
9
BBTN
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
10
BMRI
Bank Mandiri (Persero) Tbk.
11
BSDE
Bumi Serpong Damai Tbk.
12
BTPS
Bank BTPN Syariah Tbk.
13
CPIN
Charoen Pokphand Indonesia Tbk
14
CTRA
Ciputra Development Tbk.
15
ERAA
Erajaya Swasembada Tbk.
16
EXCL
XL Axiata Tbk.
17
GGRM
Gudang Garam Tbk.
18
HMSP
H.M. Sampoerna Tbk.
19
ICBP
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
20
INCO
Vale Indonesia Tbk.
21
INDF
Indofood Sukses Makmur Tbk.
22
INKP
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk.
23
INTP
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
24
ITMG
Indo Tambangraya Megah Tbk.
25
JPFA
Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
26
JSMR
Jasa Marga (Persero) Tbk.
27
KLBF
Kalbe Farma Tbk.
28
MDKA
Merdeka Copper Gold Tbk.
29
MIKA
Mitra Keluarga Karyasehat Tbk.
30
MNCN
Media Nusantara Citra Tbk.
31
PGAS
Perusahaan Gas Negara Tbk.
32
PTBA
Bukit Asam Tbk.
33
PTPP
PP (Persero) Tbk.
34
PWON
Pakuwon Jati Tbk.
35
SCMA
Surya Citra Media Tbk.
36
SMGR
Semen Indonesia (Persero) Tbk.
37
SMRA
Summarecon Agung Tbk.
38
SRIL
Sri Rejeki Isman Tbk.
39
TBIG
Tower Bersama Infrastructure Tbk.
40
TKIM
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk.
41
TLKM
Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk.
42
TOWR
Sarana Menara Nusantara Tbk.
43
UNTR
United Tractors Tbk.
44
UNVR
Unilever Indonesia Tbk.
45
WIKA
Wijaya Karya (Persero) Tbk.
"Tentunya faktor analisa fundamental dan review risiko menjadi pertimbangan utama dalam melakukan seleksi emiten. Jadi, tidak ada investasi pada saham-saham gorengan", tegas Agus.
Dia menambahkan, untuk lebih memaksimalkan hasil kelolaan investasi, BP Jamsostek juga mengurangi broker fee atau biaya transaksi penempatan dana dengan manajer investasi.
Agus juga menjelaskan dengan kinerja pengelolaan dana di atas, sebagai Badan Hukum Publik yang bersifat nirlaba, seluruh hasil pengelolaan dana dikembalikan kepada peserta, sehingga BP Jamsostek dapat memberikan hasil pengembangan Jaminan Hari Tua (JHT) kepada pesertanya mencapai 5,63% p.a (per tahun) yang tentunya selalu di atas rata-rata bunga deposito bank pemerintah yang pada tahun 2020 ini sebesar 3,87%.
Sepanjang tahun 2020, penerimaan iuran (unaudited) BP Jamsostek tercacat sebesar Rp73,31 triliun, walaupun terdapat implementasi PP 49 Tahun 2020 tentang relaksasi iuran Program JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja), JK (Jaminan Kematian) sebesar 99% dan penangguhan Program JP (Jaminan Pensiun) sebesar 99%.
Iuran tersebut ditambah pengelolaan investasi berkontribusi pada peningkatan dana kelolaan mencapai Rp 486,38 triliun pada akhir Desember 2020.
Adapun sepanjang tahun 2020, pembayaran klaim atau jaminan yang dikucurkan BP Jamsostek mengalami peningkatan sebesar 20,01% atau mencapai Rp 36,5 triliun.