Terkuak! Ini Saham-saham Pilihan Investasi BP Jamsostek

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
18 January 2021 16:03
Peserta BP Jamsostek konsultasi layanan tanpa kontak fisik dengan virtual di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Cilandak, Kamis (18/6/2020). Layanan secara virtual ini merupakan penerapan sesuai dengan protokol kesehatan tanpa harus kontak langsung antara petugas dan peserta BP Jamsostek dalam rangka mencegah penularan COVID-19. Kepala Kantor Cabang Puspitaningsih mengatakan adanya layanan konsultasi tanpa kontak fisik ini di Cabang Cilandak ini disesuaikan dengan aturan protokol kesehatan dan untuk memutus penyebaran Covid-19.  Kantor cabang ini menyediakan skat-skat yang dilengkapi layar monitor yang terhubung dengan petugas secara video conference untuk kebutuhan komunikasi dan verifikasi data.

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2020 menjadi periode yang sendu bagi pasar modal, pun secara umum bagi perekonomian nasional dan global akibat pandemi Covid-19. Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi -5.1%, ditutup di level 5.979, sementara penutupan 2019 IHSG berada di level 6.299.

BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) pun mengungkapkan sejumlah strategi penempatan portofolio terutama investasi saham di tengah kejatuhan pasar saham tersebut.

Sepanjang tahun lalu, BP Jamsostek mencatatkan hasil investasi sebesar Rp 32,30 triliun, dengan imbal hasil investasi alias yield on investment (YOI) yang didapat sebesar 7,38%.


Sementara itu, dari tahun 2016 hingga 2020, dana kelolaan BP Jamsostek tumbuh mencapai 2 kali lipat dengan CAGR (rata-rata pertumbuhan tahunan) sebesar 18,74%, hingga mencapai Rp 486,38 triliun.

Padahal sejak tahun 1977 hingga 2015, dana kelolaan BP Jamsostek berada pada angka Rp 206,58 triliun. Dana kelolaan dan hasil investasi di 2020 tumbuh masing masing sebesar 12,59% dan 10,85% dibandingkan tahun akhir 2019.

Terkait dengan investasi, Direktur Utama BP Jamsostek Agus Susanto, mengatakan pengelolaan investasi mengacu pada PP No. 99 tahun 2013 dan PP No. 55 tahun 2015, yang mengatur jenis instrumen-instrumen investasi yang diperbolehkan berikut dengan batasan-batasannya.

Selain itu, BP Jamsostek juga berpedoman pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (JOJK) No. 1 tahun 2016 yang juga mengharuskan penempatan pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar minimal 50%.

"Untuk alokasi dana investasi, BP Jamsostek menempatkan sebesar 64% pada surat utang, 17% saham, 10% deposito, 8% reksa dana, dan investasi langsung sebesar 1%", tuturnya, dalam siaran pers, Senin (18/1/2021).

Selama masa pandemi, katanya, pengelolaan dana investasi mendapatkan tantangan yang cukup berat, mengingat dampak pandemi Covid-19 dirasakan oleh seluruh bidang usaha di dalam negeri. IHSG bahkan sempat terseok ke level 3.000-an pascaditetapkannya Covid-19 sebagai pandemi global.

"Kondisi pandemi termasuk pasar investasi global dan regional tentunya memiliki pengaruh pada hasil investasi yang diraih oleh industri jasa keuangan pada tahun 2020. Tapi kami telah mengalihkan mayoritas portofolio pada instrumen fixed income [pendapatan tetap] hingga mencapai 74% dari total portofolio, sehingga tidak berpengaruh langsung dengan fluktuasi IHSG," ujar Agus.

NEXT: Saham-saham pilihannya

Deretan Saham LQ45
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading