Sudah Tembus US$ 90/ton, Sekarang Harga Batu Bara Woles Dulu

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
14 January 2021 10:19
A pile of coal is seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn Ogirenko

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak futures (berjangka) batu bara melemah setelah tembus ke level psikologis US$ 90/ton kemarin, Rabu (13/1/2021). Pasar diwarnai dengan aksi ambil untung setelah harga melesat.

Harga kontrak batu bara yang aktif ditransaksikan di bursa berjangka yaitu ICE Newcastle ditutup terkoreksi 0,94% ke level US$ 89,65/ton. Sebelumnya harga kontrak yang kadaluwarsa pada Februari ini sempat tembus level US$ 90,5/ton.


Kenaikan harga batu bara masih dipicu oleh ketatnya pasokan di China. Minggu lalu harga batu bara lokal China Qinhuangdao 5.500 Kcal/kg naik 8,9%. Sekarang harga batu bara China sudah tembus RMB 858/ton.

Jauh melampaui target pemerintah China yang mematoknya di RMB 500 - 570 per ton. Artinya ada selisih RMB 318/ton dari level tertingginya yang diizinkan oleh pemerintah China.

Konsumsi listrik di China memang sedang naik-naiknya. Musim dingin dan jelang tahun baru Imlek membuat kebutuhan untuk penghangat ruangan menjadi meningkat. Namun permintaan yang tinggi tidak dibarengi dengan pasokan yang mencukupi.

Di saat yang sama minimnya pasokan batu bara domestik juga membuat harga komoditas tambang tersebut melesat signifikan. Pemerintah China terus berupaya untuk menaikkan produksi lokalnya dan melonggarkan kebijakan impor agar harganya turun dan permintaan dapat terpenuhi.

Hubungan China dan Australia yang retak membuat permintaan impor batu bara Negeri Panda menurun. Namun di saat yang sama permintaan impor dari India justru mengalami kenaikan. 

Seolah bertukar pasar kini Indonesia jadi pemasok batu bara China dan Australia mengambil alih pasar India. China dan India merupakan dua negara dengan konsumsi batu bara terbesar di dunia.

Impor China dari Indonesia melonjak menjadi 12,19 juta ton pada Desember, melampaui rekor sebelumnya 10,47 juta pada April 2019, dan naik hampir tiga kali lipat dari 4,3 juta yang tercatat pada November.

Impor India dari Australia mencapai 6,24 juta ton pada Desember, naik dari 5,06 juta pada November dan 5,48 juta pada Oktober, dengan ketiga bulan terakhir ini mengalahkan rekor tertinggi sebelumnya sebesar 4,81 juta dari Desember 2019.

Impor India dari Indonesia mencapai 5,65 juta ton pada bulan Desember, di bawah volume dari Australia, dan turun dari 5,82 juta pada bulan November dan 6,75 juta pada bulan Oktober.

"Angka Desember ini juga jauh di bawah rekor impor India dari Indonesia, 10,58 juta ton pada April 2019." tulis Russell sebagaimana diwartakan Reuters.

Perlu dicatat bahwa sebagian besar ekspor batu bara Australia ke India adalah batu bara metalurgi atau kokas yang banyak digunakan untuk produksi baja.

Namun berdasarkan data pelacakan kapal, terjadi peningkatan volume impor batu bara termal juga. Kemungkinan besar ini sebagai akibat dari penambang Australia yang mencari pasar baru untuk menggantikan pengiriman yang hilang ke China.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading