Anjlok Parah & Kena ARB, Kemana Arah Saham KAEF & INAF?

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
14 January 2021 08:22
Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta,CNBC Indonesia - Saham duo anak usaha perusahaan farmasi pelat merah, Bio Farma anjlok parah pada perdagangan kemarin (14/1/21). Dimulainya vaksinasi menjadi puncak reli panjang dua saham ini. 

Tercatat harga saham PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) diperdagangkan di harga yang sama yakni Rp 6.500/unit. Kedua saham farmasi ini anjlok menyentuh level terendah yang diijinkan oleh regulator (ARB) yakni 6,81%.

Kedua saham ini sendiri baru saja sukses melesat menembus level tertinggi sepanjang sejarahnya, INAF di harga Rp 7.350/unit sedangkan KAEF di harga RP 7.575/unit. Melesatnya kedua saham dalam berberapa hari terakhir tidak lepas dari sentimen dimulainya vaksinasi tahap pertama di Indonesia, dimana Presiden Indonesia Joko Widodo menjadi orang pertama di RI yang disuntik vaksin.


Tim Riset CNBC Indonesia sendiri menganggap bahwa kenaikan mayoritas saham-saham farmasi yang sudah melesat sejak vaksin Sinovac tiba di Indonesia pertama kali sudah tergolong tidak wajar.

Hal ini juga diaminkan oleh regulator yakni Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sempat memberikan tato UMA (Unusial Market Activity) kepada kedua saham ini yang menandakan adanya pergerakan pasar tidak wajar di saham-saham tersebut.

Meskipun demikian tentu para pelaku pasar tetap bertanya-tanya bagaimana prospek kedua saham farmasi tersebut kedepanya, apakah masih layak investasi di saham ini ?

Well, apabila para pelaku pasar ingin berinvestasi jangka menegah hingga panjang tolak ukur yang biasanya dilakukan tentunya adalah analisis fundamental dengan mengukur valuasi seberapa murah atau mahal harga saham. Sejatinya secara fundamental saham INAF dan KAEF sudah tergolong amat sangat mahal sekali.

Catat saja apabila menggunakan metode valuasi harga saham dibandingkan dengan laba bersihnya, KAEF memiliki PER sebesar 727,89 kali. Angka ini tentunya jauh lebih tinggi daripada PER rata-rata perusahaan yang melantai di BEI yang hanya berada di angka 10,1 kali, maka bisa dikatakan harga saham KAEF menggunakan valuasi PER 72 kali lipat lebih mahal dibanding dengan harga rata-rata perusahaan yang melantai di BEI.

Bahkan hal yang lebih parah terjadi di saham INAF dimana perseroan belum mampu membukukan keuntungan bersih pada tahun ini sehingga PERnya minus dan tidak dapat di analisis.

Untuk metode valuasi harga pasar dibanding dengan nilai bukunya alias PBV, kedua perusahaan juga tergolong sangat mahal. Tercatat PBV KAEF berada di angka 5,30 kali sedangkan PBV INAF lebih fantastis mahalnya yakni 41,45 kali lagi-lagi keduanya berada di atas rata-rata perusahaan yang melantai di BEI dengan PBV hanya sebesar 2 kali.

Selanjutnya, kedua saham ini memang menarik di analisis apalagi kabar yang beredar di kalangan para pelaku pasar kedua saham ini memiliki market maker.

Dimana aktivitas market maker biasanya menggoreng suatu saham dan setelah harganya tinggi akan didistribusi kepada investor ritel sebagai cara bandar mengambil keuntungan. Setelah aksi distribusi selesai seringkali harga saham akan anjlok parah ke level harga wajarnya.

Apalagi mengingat jumlah investor ritel di Indonesia meningkat sangat pesat di tengah pandemi dan investor-investor ritel pemula tersebut kebanyakan tertarik untuk membeli saham farmasi yang memang sedang hot diperdagangkan karena melesat terus-menerus tanpa memikirkan resikonya.

Selama sebulan terakhir, tiga broker yang paling getol bertransaksi di kedua saham tersebut ternyata adalah broker yang sama sama yakni broker-broker yang notabene banyak digunakan oleh investor ritel yaitu Mirae Asset Sekuritas (YP), Mandiri Sekuritas (CC), dan Indo Premier Sekuritas (PD).

Hal ini menunjukkan kedua saham tersebut memang sedang aktif diperdagangkan dan sedang hot di kalangan investor ritel.

Selain bertransaksi dalam jumlah jumbo di saham INAF dan KAEF, broker-broker tersebut juga rata-rata melakukan pembelian bersih sehingga ada indikasi terjadinya distribusi kepada ritel.

Adanya distribusi market maker kepada investor ritel sendiri juga diaminkan oleh gerak komposisi kepemilikan saham non-warkat di penitipan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)untuk kedua saham ini selama setahun terakhir. Simak tabel berikut

Menurut Data KSEI, total saham INAF yang berbentuk non-warkat yang dititipkan ke KSEI hanyalah 19,34%. Hal ini masuk akal karena kepemilikan Bio Farma di saham INAF mencapai 80,66% sehingga kemungkinan besar saham yang berbentuk warkat dikuasai oleh Bio Farma sehingga tidak likuid untuk diperdagangkan.

Tercatat tiga besar tipe investor pemilik saham INAF adalah asuransi lokal (Local IS), Reksa Dana Lokal (Local MF), dan Individu Lokal (Local ID). Sejak awal tahun sendiri investor asuransi dan reksa dana terus menerus melakukan penjualan dan investor individu alias investor ritel lah yang terus menyerap jualan kedua investor tersebut.

Tercatat pada akhir Januari investor asuransi merangkul 438 juta saham INAF, sedangkan per 30 Desember kepemilikan investor asuransi di INAF tinggal 433 juta. Kepemilikan Reksa Dana juga berkurang jauh dari hampir 90 juta saham hingga hanya 74,5 juta saham saja. Sedangkan investor individu alias terus menerus melakukan aksi beli sehingga kepemilikan mereka meningkat dari 67,4 juta saham menjadi 84,2 juta saham.

Aksi beli investor individu alias ritel yang masif ini juga diamini oleh data pemegang saham INAF yang berhasil naik tinggi dari posisi akhir tahun yakni 31 Desember 2019 di angka 4.531 investor ke posisi 30 Oktober 2020 di angka 10.584 atau naik lebih dari dua kali lipat.

Kondisi serupa juga terjadi di saham KAEF yang bisa dilihat dari grafik di bawah.

Menurut Data KSEI, total saham KAEF yang berbentuk non-warkat yang dititipkan ke KSEI hanyalah 9,97%. Hal ini masuk akal karena kepemilikan Bio Farma di saham INAF mencapai 90,03% sehingga kemungkinan besar saham yang berbentuk warkat dikuasai oleh Bio Farma sehingga tidak likuid untuk diperdagangkan.

Meskipun komposisi kepemilikan saham KAEF agak berbeda dengan INAF dimana saham KAEF kepemilikan saham investor individu lebih banyak dari kepemilikan saham reksa dana, akan tetapi terjadi kesamaan yakni porsi kepemilikan investor individu porsinya terus meningkat. Lagi-lagi sejak awal tahun investor asuransi dan reksa dana terus menerus melakukan penjualan dan investor individu lah yang terus menyerap jualan kedua investor tersebut.

Tercatat pada akhir Januari investor institusi merangkul 263,4 juta saham KAEF, sedangkan per 30 Desember kepemilikan investor institusi di INAF tinggal 262,7 juta. Kepemilikan reksa dana juga berkurang jauh dari 37,4 juta saham hingga hanya 16,4 juta saham saja. Sedangkan investor individu terus menerus mengkoleksi jualan investor asuransi dan reksa dana sehingga kepemilikan mereka meningkat dari 206 juta saham menjadi 256,3 juta saham.

Aksi beli investor individu alias ritel yang jumbo ini juga diamini oleh data pemegang saham KAEF yang berhasil loncat dari posisi akhir tahun yakni 31 Desember 2019 di angka 2.397 investor ke posisi 30 Desember 2020 di angka 31.272 atau naik lebih dari tiga belas kali lipat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(RCI/RCI)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading