Trio TINS, ANTM & INCO Tak Kenal Lelah, Masih Lanjut Sprint!!

Market - Putra, CNBC Indonesia
08 January 2021 10:08
Warga mempelajari platform investasi di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak yang mengamini tahun 2021 akan menjadi tahun emas bagi berbagai komoditas terutama untuk jenis logam dasar (base metal). Salah satu yang diprediksi bakal naik adalah harga nikel.

Di sepanjang tahun 2020, harga kontrak futures nikel yang diperdagangkan di bursa Shang Hai menguat 18%. Kenaikan harga nikel dunia juga membuat harga nikel acuan RI ikut terkerek.

Saham emiten nikel sendiri kembali melesat pada perdagangan hari ini setelah sempat terbang tinggi selama setahun terakhir. Simak kinerja saham-saham nikel yang melantai di bursa pada hari ini.


Terpantau pada perdagangan hari ini harga saham-saham produsen nikel lagi-lagi semuanya berhasil diperdagangkan di zona hijau.

Kenaikan saham emiten yang memproduksi komoditas nikel jatuh kepada PT Timah Tbk (TINS) yang terbang tinggi 4,68% ke level harga Rp 1.900/unit.

Sedangkan posisi kedua diduduki oleh PT Aneka Tambang Tbl (ANTM) yang sukses melesat 3,85% ke level harga Rp 2.700/unit.

Sedangkan kenaikan paling moderat hari ini dibukukan oleh PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE) yang terbang 0,85% ke level harga Rp 236/unit.

Nikel sendiri merupakan salah satu logam hasil tambang yang digunakan untuk berbagai keperluan. Di pasar dikenal ada dua jenis nikel yaitu nikel kelas I dan kelas II. Nikel kelas II banyak digunakan untuk pembuatan stainless steel, sementara kelas I digunakan untuk produk lain seperti komponen baterai mobil listrik.

Sentimen makin maraknya penggunaan mobil listrik dan tren penjualan mobil listrik yang meningkat membuat harga nikel mengalami kenaikan yang pesat. Outlook harga nikel untuk tahun 2021 pun positif.

DBS dalam laporannya menyebut harga nikel tahun ini bakal bullish dan tembus ke atas US$ 20.000/ton. Hal tersebut karena ditopang oleh adanya defisit pasokan nikel di saat permintaan sedang naik-naiknya. Tren ini terutama terjadi untuk nikel kelas I yang banyak digunakan untuk baterai mobil listrik.

Proyeksi DBS, permintaan nikel kelas I akan tumbuh 5,9% setiap tahunnya sampai 2025. Untuk periode yang sama pasokan nikel kelas I hanya tumbuh 3,3%.

Sementara itu, untuk nikel Kelas II keseimbangan di pasar tetap terjaga tahun ini, bahkan hingga 2025 seiring dengan kuatnya peningkatan kapasitas nikel pig iron (NPI) di Indonesia mengimbangi penurunan produksi Cina dan pertumbuhan permintaan nikel untuk stainless steel.

Lebih lanjut DBS memprediksi volume penjualan mobil listrik akan naik 24% per tahun secara compounding (CAGR) ke 22,3 juta unit pada tahun 2030. Kenaikan penjualan mobil listrik tentu akan mengerek permintaan nikel kelas I seiring dengan minat yang tinggi untuk penggunaan baterai yang menggunakan nikel.

Permintaan nikel untuk baterai mobil listrik akan tumbuh sebesar 32% (CAGR ) pada 2019-2030 sehingga meningkatkan konsumsi nikel untuk baterai yang dapat diisi ulang hingga 24% per tahun menjadi 1,27 juta ton pada tahun 2030.

"Oleh karena itu, kami memperkirakan kontribusi baterai isi ulang terhadap konsumsi nikel akan meningkat hingga 30% pada 2030 dari hanya 5% pada 2019." tulis DBS dalam laporannya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading