Longsor Lagi, Harga Batu Bara Sekarang Dekati US$ 75/ton

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
07 January 2021 11:08
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kembali mewujudkan komitmennya dalam upaya hilirisasi dan peningkatan nilai tambah pertambangan batu bara. Salah satunya adalah dengan memproduksi karbon aktif dari bahan baku batu bara.

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal ICE Newcastle lanjut mengalami koreksi pada perdagangan kemarin. Harga si batu hitam telah terkoreksi 7,4% sepanjang bulan Januari ini.

Rabu (6/1/2021) harga kontrak yang aktif ditransaksikan di bursa berjangka tersebut anjlok 3,63% ke US$ 75,7/ton dan menjadi level terendah sejak satu bulan terakhir. Tren bullish harga batu bara mulai terjadi sejak pertengahan Oktober dan mencapai puncaknya di akhir tahun.

Kini harga yang sudah naik tajam memang membutuhkan koreksi yang sehat. Aksi ambil untung (profit taking) para trader tak bisa terelakkan. Harga batu bara yang terlampau tinggi juga akan memicu para produsen untuk meningkatkan pasokannya.


Kendati anjlok signifikan, sebenarnya masih ada katalis positif untuk harga batu bara. Australia-China memang berseteru. Negeri Panda memboikot produk batu bara Negeri Kanguru. Selama ini China lebih banyak mengimpor batu bara kokas untuk pembuatan baja dari Australia.

Namun karena bersitegang dengan Canberra, Beijing lebih memilih menginstruksikan produsen bajanya menggunakan batu bara kokas domestik yang harganya lebih mahal. Tentu saja ini memberatkan bagi para produsen baja China karena meningkatkan biaya produksi secara langsung.

Permintaan batu bara China terus membaik seiring dengan kinerja perekonomiannya yang impresif. Konsumsi listrik meningkat dan sektor industri mulai bergeliat. Namun kendalanya terletak di pasokan batu bara domestik yang masih ketat.

Pemerintah China telah meminta para produsen untuk menaikkan produksinya. Sementara kebijakan kuota impor juga sudah direlaksasi agar perusahaan utilitas bisa mengimpor batu bara dari negara lain untuk menurunkan harga batu bara lokal yang sudah naik signifikan.

Prospek permintaan batu bara tahun 2021 diperkirakan lebih cerah dibanding tahun 2020.

Menurut laporan baru dari Badan Energi Internasional, kemungkinan pulihnya kembali ekonomi global pada 2021 diperkirakan akan mendorong rebound jangka pendek dalam permintaan batu bara menyusul penurunan besar tahun ini yang dipicu oleh krisis Covid-19.

Berdasarkan asumsi pemulihan ekonomi dunia, laporan IEA memperkirakan permintaan batu bara global akan meningkat kembali sekitar 2,6% pada tahun 2021, didorong oleh permintaan listrik dan output industri yang lebih tinggi di kawasan Asia, terutama China, India, dan Kawasan Asia Tenggara.

Namun, permintaan batu bara global pada 2021 diperkirakan masih akan berada di bawah level 2019 dan bahkan bisa lebih rendah jika asumsi laporan untuk pemulihan ekonomi, permintaan listrik, atau harga gas alam tidak terpenuhi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading