Wadow! Bitcoin Crash, Harga Emas Melesat Gila-gilaan

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
05 January 2021 07:46
FILE PHOTO: An employee shows gold bullions at Degussa shop in Singapore June 16, 2017. REUTERS/Edgar Su/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Awal tahun 2021 emas kembali menunjukkan tajinya. Kemarin harga emas dunia mengalami kenaikan 2,3%.

Hari ini, Selasa (5/1/2021), harga logam kuning tersebut lanjut menguat karena investor melepas keuntungan dari pasar bitcoin. 

Di arena pasar spot harga emas naik 0,11% ke US$ 1.944/troy ons pada 06.40 WIB. Harga emas kembali ke level tertingginya dalam dua bulan terakhir.


Kenaikan harga emas terjadi ketika tiga indeks acuan saham New York kompak ditutup di zona merah dan harga Bitcoin sempat anjlok signifikan dalam waktu singkat.

Pelemahan dolar AS juga menjadi penopang kenaikan harga emas. Sentimen utama yang menggerakkan harga emas adalah pemilihan Senat Georgia yang akan berlangsung pada 5 Januari 2021. 

Senat yang terpilih akan menentukan apakah Partai Demokrat akan menguasai seluruh jajaran eksekutif maupun legislatif di AS. Apabila hal ini terjadi, langkah Presiden AS terpilih Joe Biden dari Demokrat untuk menaikkan pajak dan menggenjot stimulus akan makin lancar.

Namun meskipun Senat yang terpilih berasal dari Partai Republik, perekonomian AS yang masih sekarat akibat pandemi Covid-19 tetap membutuhkan uluran tangan pemerintah untuk menggelontorkan stimulus lanjutan.

Potensi stimulus inilah yang diantisipasi oleh pelaku pasar dan menjadi katalis positif pendongkrak harga bullion. Emas diuntungkan dengan adanya stimulus baik fiskal maupun moneter.

Harga emas menguat 25% sepanjang 2020 karena pemerintah AS dan bank sentralnya (The Fed) menggelontorkan stimulus dengan nilai jumbo. Injeksi likuiditas di sistem keuangan yang masif membuat dolar AS melemah dan ekspektasi inflasi yang tinggi.

Kemungkinan terjadinya inflasi yang tinggi membuat investor mengalihkan sebagian asetnya ke emas. Logam mulia emas merupakan salah satu aset safe haven sekaligus aset untuk lindung nilai (hedging) dari kemungkinan inflasi tinggi. 

Sebenarnya investor sempat mendiversifikasi portofolionya ke aset-aset berisiko seperti saham dan Bitcoin. Namun karena keduanya sudah berada di 'pucuk', bahkan Bitcoin sudah masuk periode bubble seningga anjlok signifikan pada perdagangan kemarin, emas kembali diminati. 

Harga Bitcoin sempat menyentuh rekor tertingginya sepanjang sejarah ke level US$ 35.000. Tak lama setelah itu harga Bitcoin longsor lebih dari US$ 5.000 dan berakhir dengan koreksi 6%. Sementara itu S&P 500, Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite masing-masing turun 1% lebih.

Kenaikan harga emas di awal tahun juga ditopang oleh fundamentalnya yang kuat. Imbal hasil riil (setelah dikurangi inflasi) obligasi pemerintah berbagai negara sudah banyak yang jatuh ke teritori negatif. 

Bloomberg melaporkan nilai pasar obligasi pemerintah global yang berimbal hasil minus sudah mencapai US$ 18 triliun. Di era suku bunga rendah dan adanya kebijakan quantitative easing (QE) yield adalah barang yang langka, oleh karena itu opportunity cost memegang aset tak berimbal hasil seperti emas menjadi rendah.

Kombinasi faktor suku bunga rendah yang akan berlangsung lama, yield yang langka, pelemahan dolar AS, adanya kemungkinan stimulus lanjutan dan risiko bubble harga Bitcoin serta kemungkinan ekonomi pulih lebih lambat membuat emas berpotensi kembali ke level tertingginya sepanjang sejarah. 

Hal tersebut juga disampaikan oleh analis pasar senior OANDA yaitu Edward Moya. Menurutnya tahun 2021 akan menjadi tahunnya emas. Ia berpandangan bahwa harga emas bisa mencapai US$ 2.300/troy ons.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading