Siap-siap, Tahun 2021 Harga Komoditas Tambang Bakal Terbang!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
03 January 2021 09:50
Indonesia lewat PT Indonesia Alumunium (Inalum) menguasai 51% saham PT Freeport Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, melakukan kunjungan kerja ke tambang Freeport di Timika, Papua pada 2-3 Mei 2019.

Dalam acara, Jonan mengunjungi tambang emas legendaris milik Freeport Indonesia, yaitu Grasberg, yang lokasinya 4.285 meter di atas permukaan laut.

Tambang Grasberg ini akan habis kandungan mineralnya dan berhenti beroperasi pada pertengahan 2019 ini. Sebagai gantinya, produksi meas, perak, dan tembaga Freeport akan mengandalkan tambang bawah tanah yang lokasinya di bawah Grasberg.

Dalam kunjungan tersebut, Jonan didampingi Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas, Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin, serta sejumlah pejabat Kementerian ESDM.

Perjalanan menuju Grasberg dilakukan menggunakan bus khusus, dan sempat disambung dengan menggunakan kereta gantung atau disebut tram yang mengantarkan hingga ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut, dan disambung dengan bus lagi hingga ke puncak Grasberg.

Cuaca gerimis serta oksigen yang tipis menyambut kedatangan Jonan dan rombongan di lokasi puncak Grasberg.

Dalam kunjungannya Jonan mengatakan, tantangan saat ini adalah membuat operasional Freeport terus berjalan dengan baik, dan produksi, keselamatan kerja, serta lingkungan dapat terjaga dengan baik.

Jonan meminta agar tidak ada hambatan dalam pengelolaan tambang Freeport pasca pengambilalihan 51% saham oleh Inalum.

Jonan juga meminta agar ke depan peranan Freeport terhadap masyarakat Papua makin besar, lewat pembangunan sarana dan prasarana seperti sekolah serta rumah sakit atau puskesmas. (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Babak baru tahun 2021 sudah dimulai. Tahun ini diyakini sebagai tahunnya komoditas. Berbagai komoditas terutama komoditas pertambangan dinilai akan memasuki periode bullish jangka panjang yang dikenal dengan sebutan 'super cycle'.

Para ekonom, mulai dari bank investasi global seperti Goldman Sachs, akademisi di John Hopkins University hingga lembaga pengelola dana seperti Janus Handerson mulai melihat adanya tren kenaikan harga komoditas di tahun 2021 setelah resesi hebat pada 2020 akibat pandemi Covid-19.

Menurut catatan Daniel Sullivan seorang portfolio manager di Janus Handerson, dalam 227 tahun terakhir ada enam kali periode super cycle untuk komoditas yang terjadi setelah resesi atau depresi. 


Faktor yang memicu kenaikan harga komoditas adalah suku bunga acuan yang rendah, dolar AS yang lemah hingga pertumbuhan ekonomi serta booming pembangunan infrastruktur di berbagai negara terutama untuk emerging market.

Untuk tahun 2021, China akan memiliki peran sentral dalam fase siklus super komoditas. Keberhasilan China dalam menjinakkan wabah Covid-19 membuatnya menjadi satu-satunya negara G20 yang mencatatkan kinerja ekonomi yang paling moncer. 

Dalam dua kuartal terakhir secara beruntun China berhasil tumbuh 3,2% (yoy) dan 4,9% (yoy). Padahal di saat yang sama nilai median pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) negara-negara G20 berada di minus 11,1% (yoy) kuartal II dan negatif 4,15% (yoy) kuartal III.

Di tahun 2020, bijih besi dan baja menjadi komoditas yang mengalami kenaikan sangat tinggi karena dipicu oleh booming permintaan di sektor konstruksi dan manufaktur China. Untuk tahun 202 komoditas base metal seperti tembaga, aluminium, seng, nikel, timbal dan timah akan mendapat sentimen yang positif. 

Tembaga diproyeksikan bakal menjadi komoditas paling ciamik pada 2021 mengingat penggunaannya di sektor yang sangat beragam mulai dari konstruksi, perkakas hingga untuk jaringan listrik.

Pada 18 Desember lalu, bahkan harga tembaga menyentuh level US$ 8.000/ton untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir. Kenaikan harga tembaga dipicu oleh ketatnya pasokan di tengah tingginya permintaan. 

Namun Citigroup mewanti-wanti karena reli harga tembaga yang sudah tinggi bisa saja berbalik arah apabila tidak didukung dengan peningkatan di pasar fisiknya. 

Prospek Harga CPO, Minyak dan Batu Bara
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading