Rapor Merah, Krakatau Steel Pede Bisa Cetak Laba Tahun Ini

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
29 December 2020 16:10
Direktur Utama  PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), Silmy Karim  (CNBC Indonesia/Anastasia Arvirianty)

Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen baja BUMN, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menargetkan bisa mencatatkan rapor hijau di laporan keuangan tahun ini.

Hal ini sejalan dengan upaya perusahaan dalam melakukan efisiensi, mulai dari beban operasional hingga restrukturisasi kewajibannya hingga bisa menghemat 50% dari biaya operasional tahun sebelumnya.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan mayoritas penghematan biaya ini berhasil dilakukan perusahaan dengan melakukan efisiensi biaya.


"Efisiensi bisa berikan dua manfaat besar, daya saing bisa kuasai market Indonesia dan pencapaian laba. Ya tentu jangankan 2021, 2020 kita targetkan laba, 2021 lebih terbuka," kata Silmy dalam konferensi pers virtual, Selasa (29/12/2020).

"Perusahaan dengan omzet puluhan triliun dan ribuan karyawan dengan parameter biaya di KS bukan pekerja mudah dan kita bisa lewati sampai penghujung tahun hemat 50% dan ini akan terus dilanjutkan," jelas dia.

Dari segi efisiensi, operational expenditure (opex) sejak 2018 turun dari posisi US$ 31 juta per bulan, pada 2019 turun menjadi US$ 27 juta per bulan dan di tahun ini sudah menjadi US$ 15 juta per bulan.

"Artinya lebih dari 50% bisa turunkan biaya opex. Ini mengakibatkan EBITDA [laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi] yang negatif US$ 85 juta di 2019, dibandingkan saat ini sudah bukukan US$ 9 juta di induk," ungkapnya.

Dia mengungkapkan, di awal tahun ini terjadi penurunan kinerja yang signifikan akibat pandemi, namun seiring dengan membaiknya permintaan jelang akhir sudah terjadi perbaikan hingga posisi 80% dari kondisi sebelum pandemi.

Seperti diketahui, hingga akhir September 2020 lalu perusahaan mencatatkan kerugian US$ 27,39 juta (Rp 383,54 miliar, asumsi kurs Rp 14.000/US$). Nilai kerugian ini turun dari posisi kerugian di periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai US$ 211,91 juta.

Sepanjang 9 bulan pertama tahun ini, pendapatan perusahaan turun 10,85% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$ 938,79 juta (Rp 13,14 triliun), dari pendapatan perusahaan di akhir September 2019 yang senilai US$ 1,05 miliar.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading