Saham Batu Bara 'Kesurupan'! BUMI Melesat Pimpin Kenaikan

Market - Putra, CNBC Indonesia
28 December 2020 11:17
FILE PHOTO: A view of the Eagle Butte Mine, operated by Alpha Natural Resources, is seen from a public access overlook platform near Gillette, Wyoming, U.S., May 31, 2016.  REUTERS/Kristina Barker/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (28/12/20) sukses terbang tinggi 0,91% setelah pada pembukaan perdagangan sempat bergerak liar.

Seiring dengan melesatnya IHSG, data BEI mencatat, saham-saham sektor pertambangan naik, terutama pertambangan batu bara. Hal ini ditunjukkan oleh indeks pertambangan yang melesat kencang bahkan melebihi apresiasi IHSG di angka 1,48%.

Kenaikan saham sektor tambang tidak lepas dari harga kontrak futures (berjangka) batu bara Newcastle masih berada di rentang level tertingginya dalam satu setengah tahun terakhir meski mengalami koreksi pada perdagangan akhir pekan lalu.


Meskipun harga kontrak yang aktif diperdagangkan tersebut mengalami penurunan sebesar 0,41% dibanding periode perdagangan sebelumnya ke US$ 84,5/ton, kontrak tersebut masih berada di dekat level tertinggi sejak Mei 2019. Meski menguat tipis, batu bara kini mampu membukukan penguatan 10 pekan beruntun, dengan total nyaris 47%.

Berkat kinerja impresif tersebut, harga batu bara secara year-to-date kini mencetak penguatan lebih dari 22% setelah berada di zona merah sejak akhir Maret hingga 24 November lalu. Simak gerak harga saham batu bara pada perdagangan hari ini.

Terpantau data perdagangan mencatat dari seluruh emiten batu bara raksasa semuanya berhasil menghijau dan hanya satu yang merah.

Kenaikan sendiri dipimpin oleh saham batu bara sejuta umat PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang berhasil melesat kencang 8,33% ke level Rp 78/unit.

Di posisi kedua muncul emiten anak usaha Indika, PT Petrosea Tbk (PTRO) yang juga menghijau 1,82%. Emiten yang sahamnya juga dimiliki oleh investor kawakan Lo Kheng Hong ini diperdagangkan di harga Rp 1.960/unit.

Untuk emiten batu bara Pelat Merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berhasil menduduki posisi ketiga setelah melesat 1,77% ke level harga Rp 2.870/unit.

Sedangkan terpantau hanya emiten batu bara PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) yang tekoreksi 2,07% di level Rp 378/unit.

Kenaikan harga batu bara beberapa pekan terakhir tidak lepas dari sentimen musim dingin yang tengah berlangsung di China membuat permintaan si batu legam mengalami kenaikan. Di saat yang sama pasokan batu bara lokal China justru menipis sehingga membuat harganya melambung tinggi.

Harga batu bara termal China untuk tipe Qinhuangdao 5.500 Kcal/kg tembus RMB728/ton. Padahal target informal yang dipatok pemerintah hanya di RMB500 - RMB570/ton. Ketatnya pasokan batu bara lokal membuat China melonggarkan kebijakan kuota impornya, tetapi tidak untuk Australia.

Konflik antara China dan Australia semakin memanas gegara pandemi Covid-19 juga menjadi salah satu pemicu kenaikan harga batu bara. Seperti diketahui, Australia menyerukan untuk melakukan penyelidikan internasional terhadap virus corona yang berasal dari China, hingga akhirnya menjadi pandemi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading