Gagal Menang Lelang 5G, Saham EXCL & ISAT Bakal Babak Belur?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
21 December 2020 08:38
Doc. XL Axiata

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebentar lagi teknologi jaringan 5G akan segera hadir di Tanah Air. Sudah ada 3 operator telekomunikasi dinyatakan telah memenuhi syarat untuk penggunaan pita frekuensi radio 2,3 Ghz pada rentang 2360 - 2390 MHz. Frekuensi tersebut dapat digunakan untuk mendorong adopsi jaringan 5G.

Ketiga operator ini sebelumnya telah memenuhi syarat evaluasi administratif oleh Tim Seleksi dan telah menentukan peringkat melalui aplikasi pencatatan waktu pada Selasa (15/12/2020) sejak pukul 09.00 waktu server sampai dengan selesai.

Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Ferdinandus Setu menyatakan, berdasarkan hasil Tim Seleksi, di urutan pertama ada PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), kedua adalah PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri).


Sebelumnya, Kominfo mencatat, ada lima perusahaan telekomunikasi yang mendaftar di lelang ini, termasuk PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Namun dalam perkembangannya, hanya empat operator saja yang yang menyerahkan dokumen permohonan seleksi pada Kamis, 10 Desember 2020.

Dalam proses evaluasi admnistratif, XL Axiata terdepak, sehingga hanya 3 operator yang melaju sampai tahapan lelang terakhir, sementara ISAT dikabarkan mundur.

Seperti yang diketahui, jaringan nirkabel 5G menawarkan berbagai keunggulan. Salah satunya adalah kecepatan jaringan dan transfer data. Sebagai perbandingan jika kecepatan jaringan 5G bisa puluhan kali lipat dari jaringan 4G.

Infrastruktur jaringan 5G memungkinkan adopsi dan akselerasi teknologi digital di kalangan masyarakat akan semakin cepat. Hal ini jelas akan semakin berdampak positif bagi size dan pertumbuhan ekonomi digital RI yang saat ini kurang dari 5% PDB tetapi pertumbuhannya sampai dobel digit.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, ketika banyak orang lebih banyak beraktivitas dan bertransaksi dengan mengandalkan teknologi digital berbasis internet dan data.

Apabila duo emiten operator telekomunikasi (ISAT & EXCL) tak kebagian jatah frekuensi 5G tentu saja ini akan berdampak negatif bagi kinerja perusahaan karena tidak bisa memberikan layanan yang lebih cepat kepada konsumennya.

Padahal di era sekarang permintaan akan jaringan yang lebih cepat dan murah dari konsumen semakin tinggi.

Namun investor ISAT & EXCL sejatinya tidak perlu panik karena sebenarnya kedua operator seluler masih punya peluang besar mengingat lelang pita frekuensi besar baru akan dilaksanakan tahun 2022.

Untuk itu para operator telekomunikasi terus melakukan berbagai persiapan. Salah satunya adalah EXCL. Hal itu disampaikan langsung oleh sang Presiden Direktur.

"Tahun 2021 belum. Spektrum untuk 5G menurut UU Cipta Kerja baru dilelang mulai 2022," kata Presiden Direktur XL Axiata, Dian Siswarini dalam Selular Digital Telco Outlook, Selasa (15/12/2020).

Hal inilah yang menyebabkan para pelaku pasar tidak terlalu panik merespons berita kegagalan Indosat dan XL yang gagal memenangkan lelang frekuensi radio 2,3 Ghz yang dapat digunakan untuk mendorong adopsi jaringan 5G.

Data BEI mencatat, saham EXCL ditransaksikan di rentang harga Rp 2.710 - Rp 2.830/saham.

Di sesi akhir perdagangan Jumat lalu (18/12), saham EXCL ditutup di Rp 2.790/saham atau stagnan jika dibandingkan dengan penutupan harga Kamis. EXCL memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 29,87 triliun. Dalam 3 bulan terakhir sahamnya naik 23%, sementara dalam 6 bulan naik hanya 5,28%.

Beralih ke emiten lain yaitu ISAT, harga sahamnya ditutup melesat 15,74% menjadi Rp 4.560/saham.

Dalam sepekan terakhir harga saham ISAT telah melesat 70,8%. Nilai kapitalisasi pasar ISAT saat ini mencapai Rp 24,78 triliun. Dalam 3 bulan saham meroket 102%, 6 bulan melesat 113%,

Kenaikan fantastis saham ISAT diakibatkan oleh pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebutkan aset negara atau kepemilikan saham di kedua perusahaan tersebut akan dikelola Kementerian BUMN di bawah kendali Menteri Erick Thohir.

Sebagai informasi, sebanyak 776.625.000 juta saham ISAT atau setara dengan 14,29% dari total saham dimiliki oleh Negara Republik Indonesia. Selain itu ISAT juga baru saja melunasi obligasi Rp 301 miliar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading