Newsletter

Meroket 20% Tanpa Tanding, Hari Ini IHSG Lampu Kuning!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 December 2020 06:15
Medial workers carry a patient infected with the coronavirus onto an ambulance at an elderly care facility in Ulsan, South Korea, Monday, Dec. 7, 2020. South Korea's health minister said Monday that the Seoul metropolitan area is now a

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri kompak menguat sepanjang pekan lalu, tetapi pada hari ini, Senin (14/12/2020), risiko koreksi cukup tinggi sebab kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) yang melonjak. Beberapa negara yang mengalami lonjakan kasus, serta sentimen yang mempengaruhi pasar keuangan hari ini dibahas di halaman 3. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli panjang setelah menguat 2,2% ke 5.938,329 sepanjang pekan lalu, bahkan sempat menyentuh level 6.000 untuk pertama kalinya sejak 7 Februari lalu. Meski demikian, data perdagangan mencatat investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 720 miliar di pasar reguler sepanjang pekan lalu dengan nilai transaksi mencapai Rp 89 triliun.

IHSG kini sudah menguat dalam 10 pekan beruntun, dengan total penguatan 20,53%. Dengan penguatan tersebut, Bursa kebanggaan Tanah Air ini menjadi yang terbaik tanpa tanding dalam 10 pekan terakhir dibandingkan dengan bursa saham dunia lainnya. 


Rupiah juga membukukan penguatan meski tipis 0,11% melawan dolar AS ke Rp 14.070/US$ sepanjang pekan lalu. Sementara di pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) juga mengalami penguatan. Yield SBN tenor 10 tahun turun 1,6 poin menjadi 6,182%.

Pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya, ketika yield turun artinya harga naik, begitu juga sebaliknya.

Sentimen positif datang dari dalam negeri, dimana vaksin virus corona sudah tiba pada hari Minggu (6/11/2020).

Sebanyak 1,2 juta vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech sudah tiba, hal ini disampaikan langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Saya ingin menyampaikan satu kabar baik, hari ini pemerintah sudah menerima 1,2 juta doss vaksin Covid, vaksin ini buatan Sinovac yang kita uji secara klinis di Bandung dari Agustus lalu," kata Jokowi, seperti dikutip Senin (7/12/2020).

Jokowi mengungkapkan pemerintah juga masih mengupayakan 1,8 juta dosis vaksin yang akan tiba awal Januari 2021.

"Selain vaksin dalam bentuk jadi, bulan ini akan tiba 15 juta dosis vaksin dan Januari 30 juta dosis dalam bentuk bahan baku yang akan diproses lebih lanjut oleh Bio Farma," tambah Jokowi.

Tetapi, pelaksanaan vaksinasi belum bisa dilakukan segera. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato mengungkapkan meski vaksin sudah data dan berada di Indonesia, pelaksanaan vaksinasi masih harus melalui tahapan evaluasi dari Badan POM guna memastikan aspek mutu dan efektivitas dan fatwa MUI untuk aspek halal.
Selain itu, beberapa data ekonomi juga dirilis dari dalam negeri.

Pada Senin (7/12/2020), Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa hingga akhir bulan lalu sebesar US$ 133,6 miliar. Turun US$ 100 juta dibandingkan Oktober 2020 yaitu US$ 133,7 miliar.

Cadev yang tinggi menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan dalam negeri. BI jadi memiliki lebih banyak amunisi untuk menstabilkan rupiah jika mengalami gejolak. Stabilitas Mata Uang Garuda dapat membuat investor asing lebih nyaman berinvestasi di Indonesia, karena risiko kerugian akibat kurs menjadi berkurang.

Sehari setelahnya, BI melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode November 2020 sebesar 92. Naik tajam dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 79.

IKK menggunakan angka 100 sebagai titik start. Jika masih di bawah 100, maka artinya konsumen belum optimistis dalam memandang situasi ekonomi saat ini dan beberapa bulan ke depan. Jadi sampai bulan lalu, konsumen Tanah Air belum percaya diri, tetapi sudah jauh membaik ketimbang bulan Oktober.

BI juga melaporkan data penjualan ritel yang dicerminkan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Oktober 2020 berada di 183,5. Ambles 14,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY), lebih dalam ketimbang penurunan September 2020 yang 8,7% YoY.

Untuk November 2020, BI memperkirakan penjualan ritel terkontraksi (tumbuh negatif) lebih dalam lagi yakni 15,7% YoY. Terutama disebabkan penurunan penjualan kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi.

Wall Street Melemah, tapi Cetak Rekor Tertinggi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading