CNBC Indonesia Award

Telkom Raih The Best Digitalization Enabler Enterprise

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
10 December 2020 20:48
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dalam acara CNBC Indonesia Award 2020 dengan tema Menyongsong Bangkitnya Ekonomi Indonesia 2021. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) meraih penghargaan The Best Digitalization Enabler Enterprise dalam ajang CNBC Indonesia Award 2020.

Apresiasi dari CNBC Indonesia ini diterima secara langsung oleh Direktur Enterprise & Business Service Telkom Edi Witjara pada malam Penganugerahan CNBC Indonesia Award 2020 bertema "Menyongsong Bangkitnya Ekonomi Indonesia 2021" di Auditorium Menara Bank Mega Jakarta Selatan pada Kamis, (10/12/2020).

Dalam kajian dari Tim Riset CNBC Indonesia, sejak menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Mlik Negara (BUMN), Erick Thohir setidaknya telah dua kali menyentil PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), untuk terbang lebih tinggi dan tak hanya bermain di layanan telekomunikasi.


Sentilan pertama disampaikan pada Februari lalu dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI ketika Erick meminta Telkom mempercepat transformasi bisnisnya di era digital. "Jadi saya ingin mereka bisa mentransformasi diri dengan yang terjadi di era digital, kekuatan Telkom luar biasa, jaringan dan database," ujarnya.

Sentilan kedua disampaikan baru-baru ini ketika Erick membuka acara 25th Telkom IPO Anniversary, pada Kamis (19/11/2020) yang disiarkan secara virtual. Dia berharap, nilai kapitalisasi pasar (market cap) Telkom bakal meningkat menjadi Rp 450 triliun.

"Kalau dulu nilai kapitalisasi pasar Rp 450 triliun, saya mau di bawah pimpinan komisaris dan direksi sekarang, valuasi Telkom harus sama kembali," tuturnya, mengacu para market cap ketika Telkom mencatatkan dual listing di bursa New York (NYSE) 25 tahun yang lalu.

Telkom menjadi satu-satunya BUMN yang dual listing di NYSE. Di BEI, saham perseroan mencetak kapitalisasi pasar sebesar Rp 327 triliun, setelah akhir tahun sempat di kisaran Rp 350 triliun. Krisis pandemi menekan harga saham TLKM sebesar 16,7% (sepanjang tahun berjalan).

Investor, sebagaimana disinggung Erick, bakal mengapresiasi kebijakan stategis dalam jangka menengah dan jangka panjang yang bakal menjadi "ladang minyak" baru penghasil keuntungan. Dia mengacu pada pengembangan layanan digital dan teknologi 4.0 yang selama ini belum digarap secara masif oleh Telkom.

Telkom membagi bisnis digitalnya menjadi 3 domain. Pertama, konektivitas digital yakni Fiber to the x (FTTx), 5G, Software Defined Networking (SDN), Network Function Virtualization (NFV), dan satelit. Kedua, layanan digital ke perusahaan dan pelanggan rumah tangga.

Ketiga, platform digital yang meliputi pusat data (data center), komputasi awan (cloud), internet segala-rupa (internet of things/IoT), data besar (big data), keamanan siber (cybersecurity), dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Saat ini, Telkom masih mengandalkan pendapatannya dari anak usahanya yakni Telkomsel, dengan kontribusi sebesar 65,8% (per Juni 2020). Kontributor kedua berasal dari lini bisnis jaringan broadband Indihome sebesar 15,5%, bisnis enterprise (11,5%), dan wholesale (10,2%).

Jika ingin mendongkrak kinerjanya secara drastis dan menarik investor memegang saham perseron, sebagaimana diamanatkan Erick Thohir, Telkom tidak bisa mengandalkan pertumbuhan organik dar Telkomsel. Lompatan harus dilakukan, dengan menggenjot lini bisnis lain yang sedang bertumbuh pesat, yakni digital.

Ekosistem Digital Terbesar Asia Tenggara
Indonesia sebagai perekonomian yang terbesar, dan juga berpopulasi terpadat, di Asia Tenggara merupakan pasar besar bagi layanan dan platform digital baik untuk pasar korporasi maupun rumah tangga. Jika Telkom mengembangkan lini ini, maka terciptalah "mesin uang" yang baru.

Sejalan dengan visi tersebut, Telkom terus mempercepat pembangunan infrastruktur, tingkat adopsi digital, dan membangun ekosistem digital bersama klien korporasi. Salah satu program terbaru yang dijalankan adalah digitalisasi SPBU Pertamina.

Menurut Direktur Enterprise and Business Service Telkom Edi Witjara, digitalisasi SPBU bisa menjadi pijakan pertama untuk membangun ekosistem digital di Indonesia dengan cakupan yang luas, sehingga dapat dijadikan model digitalisasi ke depannya.

"Cakupannya Indonesia, yang begitu luas. Kami mensolusikannya dengan tiga model untuk mengantisipasi jika ada kendala. Ada fiber optic digelar di seluruh Indonesia, kalau ada keterbatasannya kami juga punya solusi lain yang terintegrasi," ujar Edi pada Senin (7/12/2020).

Keseriusan perseroan mengejar diversifikasi bisnis digital terlihat dari keputusan untuk membangun fasilitas data center, yang merupakan backbone segmen enterprise. Tak tanggung-tanggung fasilitas yang dibangun adalah tier 3 dan 4 yang merupakan standar data center terbaik.

Dalam 6 bulan pertama tahun ini, bisnis data center di segmen enterprise mencatat pendapatan Rp 329 miliar atau tumbuh 36% secara tahunan (per Juni). Di segmen wholesale, bisnis data center dan cloud juga berkinerja bagus, dengan pendapatan Rp 311 miliar atau tumbuh 39,2%.

Besarnya porsi swasta terhadap pendapatan enterprise Telkom menunjukkan bahwa lini diigital di segmen enteprise tersebut masih prospektif, meski menghadapi tantangan pandemi yang secara umum memicu penghematan di banyak perusahaan swasta.

Namun lain halnya dengan Telkom yang justru terus membangun infrastruktur pendukung layanan digital. Jika krisis pandemi usai dan new normal berjalan penuh, Telkom pun akhirnya bakal mencetak lonjakan permintaan jasa digital, terutama dari segmen enterprise.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading