Wall Street Hilang Arah, Labil bin Galau!

Market - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
08 December 2020 07:34
Trader Gregory Rowe works on the floor of the New York Stock Exchange, Monday, Aug. 5, 2019. Stocks plunged on Wall Street Monday on worries about how much President Donald Trump's escalating trade war with China will damage the economy. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Index saham Wall Street ditutup variatif pada perdagangan Senin (7/12/2020) kemarin. Meski kabar baik soal vaksin membuat reli minggu lalu, namun angka penyebaran Covid-19 yang masih terlalu tinggi membuat investor khawatir.

Dow Jones Industrial Average turun dari rekor pekan lalu. Indeks blue-chip turun 148,47 poin atau 0,5% menjadi ditutup pada 30069,79.


S&P 500 juga turun 7,16 poin atau 0,2% menjadi 3691,96. Meski begitu, Nasdaq Composite yang menjadi rumah perusahaan teknologi, justru naik 55,71 poin, atau 0,4% menjadi 12.219,95.

Pelaku pasar mulai mengantisipasi adanya fenomena pull back di pasar saham AS. Peningkatan kasus infeksi Covid-19 yang signifikan turut menambah keresahan investor. Rata-rata pertambahan kasus baru infeksi Covid-19 di AS dalam tujuh hari terakhir mencapai 196.200 atau meningkat 20% dari pekan sebelumnya.

Tidak hanya pertambahan kasus Covid-19 saja yang melonjak tajam. Angka kematian akibat Covid-19 di AS juga ikut meroket. Hampir 3.000 orang meninggal akibat Covid-19 di Negeri Paman Sam.

Meski prospek vaksin Covid-19 terbilang cerah dan bisa membuat pasar sumringah, akan tetapi potensi pengetatan pembatasan untuk menekan transmisi wabah cukup membuat prospek pemulihan ekonomi menjadi tertekan.

"Dalam jangka pendek, risiko pembalikan bursa saham yang tipis terus membesar karena memburuknya situasi virus di AS yang bisa memicu pembalikan posisi," tulis Goldman Sachs dalam laporan risetnya, yang dikutip CNBC International.

Peningkatan kasus infeksi Covid-19 yang signifikan dan kebijakan social distancing yang lebih ketat membuat stimulus fiskal jilid II sangatlah dibutuhkan. Namun saat ini belum ada konsensus soal stimulus.

Sebelumnya proposal bipartisan mengajukan usulan nominal stimulus sebesar US$ 908 miliar. Namun usulan tersebut ditolak oleh Senat yang mayoritas didominasi oleh Partai Republik pekan lalu.

Dalam pernyataannya pemimpin mayoritas Senat Mitch McConnell mengatakan bahwa stimulus bisa digelontorkan jika pihak Partai Demokrat mau menurunkan besaran stimulus mendekati level yang diusulkan pihak Republik.

Angka US$ 908 miliar sebenarnya jauh lebih rendah dari usulan awal Demokrat sebesar US$ 2 triliun. Namun angka tersebut masih lebih besar dari yang diusulkan Senat Republik sebesar US$ 500 miliar.

Meski pemimpin Senat Mayoritas Mitch McConnell sudah menolak proposal itu, juru bicara Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan bahwa pihaknya dan McConnell masih berdiskusi soal "komitmen bersama untuk menyelesaikan omnibus [UU stimulus] dan bantuan Covid segera."

Sentimen lainyang menahan koreksi tajam S&P dan Dow Jones adalah perkembangan terbaru soal vaksinasi Covid-19. Mengutip CNBCInternational, FDAatau semacam BPOMAS diperkirakan bakal merestui penggunaan darurat vaksin minggu ini seiring dengan krisis kesehatan yang semakin memburuk di Negeri Adidaya.

FDA dijadwalkan mengadakan pertemuan Komite Penasihat Vaksin dan Produk Biologis Terkait, yang dikenal sebagai VRBPAC, pada hari Kamis untuk meninjau vaksin Covid-19 Pfizer dengan produsen obat Jerman BioNTech untuk otorisasi penggunaan darurat.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Vaksin Makin Joss Tapi Wall Street Galau, Kok Bisa?


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading