Obligasi RI Makin Diminati, Yield Pelan-pelan Mau ke Bawah 6%

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 December 2020 16:30
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi Indonesia mayoritas menguat di pekan ini, meski jumlah kasus penyakit virus corona (Covid-19) meledak.

Penguatan pasar obligasi tercermin dari yield-nya yang mengalami penurunan. Untuk diketahui, pergerakan yield berbanding terbaik dengan harga obligasi, ketika harga naik yield akan turun, begitu juga sebaliknya.

Melansir data Refinitiv, di pekan ini hanya yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 1 tahun naik 0,4 basis poin (bps) menjadi 3,801%, sementara yield tenor lainnya menurun. Artinya hanya SBN tenor 1 tahun yang melemah, sisanya menguat.


Yield SBN tenor 10 tahun turun 2 bps menjadi 6,198%, dan masih berada di dekat level terendah sejak Januari 2018.


Kasus Covid-19 mencetak rekor penambahan harian 6.267 kasus pada hari Minggu (29/11/2020). Rekor tersebut kemudian pecah lagi pada Kamis (3/12/2020), jumlah kasus baru tercatat sebanyak 8.369 orang.

Dalam 2 pekan terakhir, rata-rata penambahan kasus juga meningkat menjadi 1,03% per hari, dibandingkan 2 pekan sebelumnya 0,92% per hari.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, bahkan mengatakan penambahan kasus tersebut tidak bisa ditoleransi.

"Kita bisa melihat dalam beberapa hari terakhir kita mencatatkan rekor-rekor baru. Sebelumnya kita belum pernah mencapai di atas 5.000, tapi sayangnya kasus positif semakin meningkat bahkan per hari ini menembus lebih dari 8.000 kasus. Ini angka yang sangat besar dan tidak bisa ditolerir," ujar Prof Wiku, dalam konferensi pers Kamis (3/12/2020).

Lonjakan kasus tersebut tentunya membuat investor cemas jika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan kembali diketatkan, yang dapat menghambat pemulihan ekonomi Indonesia.

Meski demikian, sentimen positif datang dari eksternal. Perkembangan vaksin virus corona membuat investor asing masih mengalirkan modalnya ke negara-negara emerging market seperti Indonesia.

Masih menariknya obligasi Indonesia terlihat dari lelang yang dilakukan pemerintah yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) 4 kali lipat.

Pemerintah kembali melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (1/12/2020), dengan target indikatif sebesar Rp 20 triliun. Total penawaran yang masuk sebesar Rp 94,3 triliun, dan yang dimenangkan sebesar Rp 25,6 triliun atau lebih tinggi dari target indikatif.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading