Belanja Iklan Turun, Kinerja Emiten Media Ikut Amburadul

Market - chd, CNBC Indonesia
27 November 2020 08:43
Gedung SCTV

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten Grup Media saat ini sedang berusaha survive di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang hampir setahun menjangkiti hingga seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Berbagai cara agar perusahaan-perusahaan media tersebut bisa selamat di masa pandemi ini, dengan salah satunya mengenjot iklan agar kinerja bisnisnya tidak terlalu berdampak.

Sejalan dengan cara perusahaan media tersebut, menurut riset dari Panin Sekuritas, emiten sektor barang konsumsi (consumer goods) masih mencatatkan porsi belanja iklan terhadap pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historis.


Sebagai informasi, porsi belanja iklan terhadap pendapatan dari emiten consumer goods secara rata-rata 5 tahun terakhir, berada di level 6,1%, sedangkan untuk tahun 2019 sendiri, rata-rata porsi belanja iklan terhadap pendapatan sepanjang tahun tersebut berada di kisaran 6,8%.

"Memasuki tahun 2020, porsi belanja iklan terhadap total pendapatan relatif masih meningkat dimana di 3Q20 berada di level 7,7%. Hal ini menjadi sentimen positif bagi emiten-emiten di sektor media, seiring dengan kontribusi belanja iklan dari FMCG yang masih cukup tinggi (sekitar 60%-70%) terhadap total pendapatan iklan emiten media" tulis riset Panin Sekuritas, yang dipublikasikan awal pekan ini.

Walaupun begitu, porsi pendapatan perusahaan media dari iklan rata-rata berkurang jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sebelumnya, Perusahaan media milik taipan Hary Tanoesoedibjo, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) sepanjang tahun ini hingga akhir September 2020 lalu mencatatkan penurunan laba bersih 17,50%.

Hal ini karena koreksi pendapatan dari iklan yang menjadi mayoritas penyumbang pendapatan perusahaan. Di pos iklan non digital turun menjadi Rp 4,84 triliun dari Rp 5,53 triliun.

Iklan digital naik tipis menjadi Rp 675,94 miliar dari Rp 502,99 miliar. Namun tak bisa mengkompensasi penurunan iklan non digital tersebut.

Dari pos konten juga turun kontribusinya menjadi Rp 1,09 triliun dari periode sembilan bulan pertama tahun lalu yang senilai Rp 1,29 triliun.

Dari kasus turunnya porsi iklan di MNC tersebut yang membuat pendapatan perusahaan turun karena kemungkinan faktor dari acara televisi yang disiarkan secara langsung dengan melibatkan banyak penonton juga dikurangi pada masa pandemi, apalagi larangan bagi stasiun televisi untuk mengundang penonton secara langsung juga membuat perusahaan media sangat terpukul, sehingga jika tidak ada penonton yang dihadirkan, maka iklan menjadi 'seret'.

Hal lainnya yang membuat pendapatan dari iklan semakin turun adalah karena porsi belanja iklan dari emiten sektor lainnya, terutama di sektor ritel juga turun, karena rata-rata di emiten sektor tersebut sedang melakukan efisiensi, di mana belanja iklan yang memang tidak terlalu penting dikurangi supaya beban iklan yang dibayar oleh emiten ritel kepada emiten media bisa diminimalisir.

Hal itu karena sektor ritel adalah sektor yang paling terdampak dari pandemi, sehingga harus melakukan berbagai cara agar emiten di sektor tersebut bisa survive.

Walaupun saat ini belanja iklan di global masih tumbuh lebih lambat dari tahun lalu, tetapi kedepan, belanja iklan di Indonesia sendiri diprediksi akan semakin meningkat.

"Meskipun tren secara global menunjukkan pertumbuhan belanja iklan digital yang melemah, kami memperkirakan di Indonesia tren akan sedikit berbeda seiring dengan penetrasi dari smartphone dan juga internet yang masih lebih rendah dibanding negara-negara lain. Dengan aktivitas masyarakat yang masih cenderung terbatas, dan adaptasi masyarakat untuk mengkonsumsi hiburan, bekerja, dan juga belajar secara online, kami memperkirakan pertumbuhan belanja iklan digital masih akan cukup tinggi seiring dengan adanya perpindahan alokasi belanja iklan dari media lain ke iklan digital", terang penjelasan dari riset Panin Sekuritas.

Kinerja Keuangan Emtek Group, MNC Group, dan Group Media Lainnya
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading