Emiten Batu Bara Ngamuk! Saham BUMI Meroket 19% nih

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
25 November 2020 10:49
Tambang Kaltim Prima Coal

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali melesat 19,30% pada perdagangan sesi I, Rabu ini (25/11/2020) di level Rp 68/saham dan memimpin top gainers di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kemarin, saham BUMI juga ditutup menguat 7,55% atau berada di level Rp 57/saham.

Data BEI mencatat nilai transaksi saham BUMI mencapai Rp 180,46 miliar dan volume perdagangan 22,69 miliar saham. Dalam sepekan terakhir perdagangan saham induk usaha Kaltim Prima Coal dan Arutmin Indonesia ini melesat 36%.


Selain BUMI, saham emiten batu bara lainnya juga masuk top gainers hari ini. Beberapa di antaranya PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) naik 5,59% di level Rp 3.02/saham dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 5,25% di posisi Rp 11.525/saham.

Director & Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan harga saham perusahaan telah naik 14% dari pembukaan awal pekan Rp 50/saham. Harga saham BUMI pen berada di puncaknya kemarin, dan menjadi yang tertinggi di antara emiten lainnya.

"Sulit untuk berkomentar tentang pemicu nyata untuk Bumi, tetapi tidak dapat disangkal bahwa BUMI adalah saham yang nilainya sangat rendah meskipun prospek jangka menengahnya cerah," kata Dileep saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (24/11/2020).

Menurutnya prospek harga batubara yang lebih tinggi di tengah berita penemuan vaksin, juga dapat mendongkrak ekonomi global sehingga permintaan batubara akan membaik. Untuk itu Dileep mengatakan kondisi ini menguntungkan sektor khususnya Bumi Resources.

Selain itu, pemerintah Indonesia pun semakin gencar menggerakan hilirisasik batu bara melalui gasifikasi batu bara. Saat ini ada tiga perusahaan yang dinilai paling siap dalam menjalankan proyek gasifikasi dengan menyelesaikan studi kelayakan ataupun pra kajian.

Salah satunya adalah PT Arutmin Indonesia, anak usaha dari perusahaan batu bara terbesar BUMI yang akan mengolah dari batu bara menjadi methanol.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, proyek gasifikasi Arutmin berlokasi di IBT terminal, Pulau Laut Kalimantan Selatan dengan feedstock 6 juta ton per tahun. Proyek ini diperkirakan beroperasi pada 2025, dengan kapasitas produksi 2,8 juta ton per tahun.

"Ini adalah kesempatan yang menarik dan manajemen PT Arutmin Indonesia terlibat dalam pengembangan studi kelayakan .. ini adalah proyek prioritas bangsa dan terlihat sangat menjanjikan dalam segala hal," kata Dileep.

Di sisi lain, harga batu bara juga terus meroket. Harga kontrak batu bara termal Newcastle ditutup melesat di perdagangan kemarin. Harga batu bara masih tren naik sejak pertengahan Oktober lalu.

Selasa (24/11/2020), harga kontrak batu bara yang aktif ditransaksikan ditutup menguat 2,68%. Kini harga batu bara termal Newcastle berjangka itu sudah tembus ke level US$ 68,9/ton. Ini merupakan level tertinggi sejak 30 Maret.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading