Ini Alasan Masuk Akal Harga Emas Bakal Ambles ke US$ 1.500

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
24 November 2020 12:28
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia ambrol 1,85% pada perdagangan Senin kemarin, dan masih berlanjut pada hari ini, Selasa (24/11/2020). Ke depannya, harga emas bahkan diprediksi bisa ambrol hingga ke US$ 1.500/troy ons tahun depan.

Pada pukul 11:02 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1.824,59/troy ons, melemah 0,61% di pasar spot, melansir data Refinitiv.


Perkembangan terbaru vaksin virus corona menjadi penekan utama harga emas belakangan ini. Setelah perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Pfizer dan Moderna, yang mengklaim vaksi buatanya mereka efektif mengatasi virus corona hingga lebih dari 90%, kini giliran perusahaan farmasi asal Inggris AstraZeneca yang melaporkan vaksin buatanya efektif sekitar 90% tanpa menimbulkan efek samping yang serius. 

Semakin banyak vaksin yang diklaim berhasil mengatasi virus corona tentunya membuat hidup akan normal kembali lebih cepat. Alhasil, daya tarik emas sebagai aset aman (safe haven) meredup.

Selain itu data ekonomi dari AS juga menunjukkan kejutan. Ekspansi sektor manufaktur justru semakin meningkat meski Negeri Paman Sam sedang mengalami lonjakan kasus penyakit virus corona (Covid-19).

Markit melaporkan purchasing managers' index (PMI) manufaktur di bulan ini melesat ke 56,7 dari bulan sebelumnya 53,4.  PMI manufaktur menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di atasnya berarti ekspansi, sementara di bawah 50 artinya kontraksi.

Ekspansi sektor manufaktur AS yang mengejutkan, serta perkembangan vaksin virus corona membuat kemungkinan gelontoran stimulus fiskal tidak akan sebesar ekspektasi sebelumnya.

Stimulus fiskal merupakan salah satu "bahan bakar" emas untuk menguat, jika nilainya kecil tentunya logam mulia ini menjadi kurang bertenaga.

Stimulus fiskal di AS memang masih tanda tanya berapa nilainya, yang bisa jadi akan menentukan kemana arah emas ke depannya. Tetapi di luar itu, perbedaan yield (imbal hasil) di AS dengan Eropa bisa menjadi pemicu utama harga emas akan terus merosot. Hal tersebut diungkapkan oleh Carley Garner, founder perusahaan broker DeCarley Trading.

Carley melihat pelemahan dolar AS sudah selesai sebab akan ada aliran modal yang masuk ke Negeri Paman Sam. Terhentinya pelemahan dolar AS tersebut membuat emas berisiko turun ke US$ 1.500/troy ons.

"Saya pikir pelemahan dolar AS sudah mencapai dasarnya jadi penguatan emas sudah berakhir," kata Garner sebagaimana dilansir Kitco, Rabu (11/11/2020).

Garner melihat, meski bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, tetapi di Eropa yield sudah negatif yang membuat aliran modal akan masuk ke AS.

Untuk diketahui, yield obligasi AS tenor 10 tahun hari ini berada di kisaran 0,8684%, sementara obligasi tenor yang sama di Eropa, misalnya Jerman saat ini negatif 0,578%.

Melihat perbedaan tersebut, berinvestasi di AS tentunya lebih menarik ketimbang di Jerman, sehingga kemungkinan aliran modal akan masuk ke Negeri Paman Sam.

"The Fed diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, tetapi dengan tingkat suku bunganya saat ini (0,25%) masih lebih tinggi ketimbang Eropa dimana yield-nya negatif. Saya pikir akan banyak investasi masuk ke AS untuk membeli obligasi dan mungkin saham. Itu akan menahan penurunan dolar AS," tambahnya.

Menurutnya, dalam suatu waktu di tahun depan emas akan menyentuh US$ 1.500/troy ons.

"Emas perlu waktu untuk sampai disana (US$ 1.500/troy ons), tetapi pada suatu waktu di tahun depan, mungkin di kuartal I, atau mungkin di kuartal II, saat pikir saat itu," kata Garner.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading